Kamis, 26 Januari 2012

Jodoh dan Pernikahan II: Yang Tak Tergenggam Jemari


Malam sudah menjelang pekat ketika beberapa bulan lalu, saya dan seorang sahabat untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di pelosok Sragen. Gigilan kami sepanjang jalan terhapus sejenak melihat betapa besar tenda yang terpasang di depan rumahnya, Subhanallah. Setelah ucap salam dan segenap pelukan kangen, tahukah anda kalimat apa yang terucap dari sahabat saya yang hendak menikah itu. That’s it,” Kalian tu kenapa to kok pada ke sini?!” plus cengiran geje. Spontan kami yang mendengar terpingkal dan menjawab, “Gak ngerti juga nih. Emang besok ada apa ya…” :))

Esok hari kesibukan dimulai. Bahkan setelah kami bertiga selesai ‘berdandan’ dengan kostum masing-masing, masih juga kami cekikikan mempertanyakan acara apakah yang akan terjadi beberapa menit lagi itu, parah. Setelah itu kami masih sempat-sempatnya ribut saling membagikan tisu. Waktu itu saya dengan geli berkata, “Buat apa ini, emangnya mau nangis ya ntar?!” :D

Sekitar pukul sembilan pagi, kami bertiga sudah duduk di ruang tamu. Sementara itu lamat di halaman rumah, ayah sahabat saya dan (calon) suaminya bergenggaman mengikrarkan sebuah janji suci nan agung. Dari ruang tamu, tanpa disadari kami mulai terisak. Entah bagaimana awalnya, bagi saya terasa seperti menyaksikan sebuah keagungan ikatan yang tak kasat mata. Ikatan yang begitu banyak mengubah hal dalam kehidupan dua orang insan, yang dengannya mereka tidak lagi dua raga saja tetapi dua raga dengan masing-masing separuh jiwa di dalamnya. Keharuan kami kembali pecah ketika ibu sahabat saya merengkuh menantunya mendekat dan berucap lirih, “Titip anakku ya mas…”

Sungguh, mengetikkan kata itu kembali saja sudah membuat mata saya merebak basah :)

Jujur saja, ketika kecil dulu, saya mengonsepkan pernikahan sebagai pestanya saja :D Tatanan panggung megah, makanan berlimpah, dan juga riasan yang wah. Maklum, pemikiran bocah, hehehe. Baru ketika jatah usia semakin berkurang, alhamdulillah pemahaman itu yang bertambah. Dari segala kemegahan ataupun setiap detail memusingkan pada setiap pernikahan, intinya selalu sama; tentang tanggung jawab.

Pada kisah sahabat saya tadi, pada awalnya sempat terasa menggelikan menyaksikan perubahan status mereka. Yang sebelumnya, dua-duanya adalah sahabat saya juga, teman bercanda, bertukar pikiran, bertengkar (upss, afwan keceplosan :D) hingga saling menasihati. Lalu sekarang, see?! Ternyata mereka telah sah mengemban amanah yang semakin besar. Bergandengan sepanjang hayat—bahkan hingga akhirat—untuk saling menjaga dan menguatkan kebaikan masing-masing, untuk saling membenahi kekurangan masing-masing dengan bahasa kema’rufan. Pengalaman kali itu terulang pada pernikahan Mamas. Lucu juga awalnya menjadi bagian dari keramaian dan keributan persiapan yang terjadi. Namun kembali ada yang berdesir ketika menjadi saksi mitsaqan ghalidza yang diembannya kini. Bahwa resmi sudah amanahnya bertambah, dari ibuk, kemudian saya, lalu kini istri dan insyaAllah anak perempuannya kelak. Terharu juga saya :)

Saya kemudian menjadi teringat bahwa pada setiap akad nikah yang saya saksikan, pasti tangan wali menjabat tangan mempelai pria erat-erat. Sekarang saya paham bahwa jemari yang saling menggenggam itu bukan sekedar tanda kesungguhan tetapi juga kiasan akan tanggung jawab yang selanjutnya akan teralihkan. Bukan hanya dalam kecukupan kebutuhan hidup, akan tetapi juga tanggung jawab untuk membentuk dan menguatkan akhlakul karimah masing-masing. Sungguh sesuatu kan, dan sungguh juga termasuk sesuatu yang sungguh-sungguh lebih dari sekedar genggaman jemari :)

Jumat, 23 September 2011

Jodoh dan Pernikahan I: Khusnudzan Saja :)


Masa perkuliahan tentunya menyisipkan berbagai hal dalam hidup kita. Bagi saya, itu termasuk dengan adanya banyak sahabat yang hadir; yang menjejakkan berbagai rupa warna di hati dan hari saya. Dan karena kesemuanya yang merupakan karib adalah wanita, yang otomatis usianya adalah kurang lebih sama, maka bahasan terhangat kami juga cenderung sama..tak lain tak bukan adalah tentang jodoh :D

Beragam liku kami ketika menghadapi satu kata sakti itu. Ada yang lancar jaya begitu lulus tak lama kemudian menikah, menyadari bahwa mereka amatlah saling melengkapi, dan sekarang sedang menantikan kelahiran buah hati—semoga lancar ya sobat :)—Ada yang perlu sekian saat menyadari bahwa sudah waktunya mereka menikah saja, bahwa insyaAllah yang mereka punya akan cukup adanya, dan voilaa..menikahlah mereka—kabar calon ponakan ditunggu ya sobat ;)—Ada juga yang masih menggigiti es krim(*atau lazimnya saja; jari, he3)sebab yang dinanti belum kunjung tiba, atau tiba tapi segera berangkat lagi… (emangnya angkot :D).

Subhanallah saya termasuk kategori belakangan :D Entah bagaimana tapi rasanya saya mulai bisa menikmati likunya proses ini dengan cukup tenang, bahkan terkadang tersenyum simpul dengan kisah kawan yang lain, he3, dasarr. Ada satu waktu saya berbagi cerita dengan seorang sahabat, hingga dari saya terlontar kata-kata bahwa mungkin kitalah yang dipandang Allah belum siap bertemu jodoh. Esok paginya, uthuk-uthuk sahabat saya itu sms…untuk berucap resah bahwa itu artinya dia pun masih cukup buruk. Duuh…saya terhenyak, astaghfirullah rasanya saya salah ucap :( Akhirnya saya renewing kalimat saya. Saya bilang itu hanya salah satu dugaan lah, sebenarnya maksud Allah bisa apapun. Tapi bukankah akan terasa jauh lebih nyaman jika kita berkhusnudzan saja sama Allah…dan menumbuhkan alasan yang akan mendorong sikap positif kita, misalnya dengan senantiasa memperbaiki diri?! :)

Lain kesempatan, lain sahabat, lain pula kisahnya. Saya pun paham, secara logika manusia tampaknya akan lebih baik dia bersuami sekarang. Bukan apa-apa, hanya saja seorang suami insyaAllah akan lebih bisa mendampingi dan menentramkan hati…24 jam sehari, 7 hari seminggu (*semacam iklan itu lah.. :p) Tapi apa nyatanya, Allah tetap belum juga menghadirkan jodohnya. Kenapa ya? Tanyanya. *pegang dagu* Saya pun berpikir keras. Ahaa, lalu saya coba bilang…iya rasanya memang akan indah kalau di saat kita merasa lemah seperti ini kita punya suami yang akan jadi sandaran. Tapiii…mungkin Allah tahu jika suami itu hadir sekarang, kita justru hanya akan ‘rajin’ bersandar, berharap penguatan. Makaa, mungkin Allah bermaksud menjadikan kita lebih kuat dulu, kuat bertahan dan tegak sendiri dulu, agar ketika suami yang kita nanti itu hadir maka kita tidak kemudian semata selalu bersandar padanya. Sebab dia pun adalah manusia, yang suatu waktu bisa lemah juga… Alhamdulillah efeknya lumayan, saya pun jadi tenang dengan kalimat saya sendiri itu, he3.

Rasanya saya kok santai sekali gitu ya. Yaa entah juga sih kenapa, kalau saya bilang karena percaya jodoh saya pasti sudah ada rasanya klise ya. Pada kenyataannya kesadaran seperti itu terkadang kurang manjur juga untuk mengusir galau *akhirnya terpaksa pakai kata ini juga, hehehe* Sampai kemarin saya mendapat inspirasi sederhana, ketika sedang menumpang bus bersama sahabat saya—ke akad nikah sahabat saya lainnya, tepat sekali :D—inilah percakapan ‘aneh’ kami:
Saya(S) : Eh aku sekarang mikirnya gini…
Sahabat Saya (SS) : Apa?
S : Doa apa yang mesti kita baca setelah salat, atau bahkan setiap saat?!
SS : Doa untuk kedua orang tua kan?
S : Yep, kita minta Allah menjaga orang tua kita..menyayangi keduanya.
SS : Terus?
S : Ya inilah, Allah sedang mengabulkan doa kita itu. Ya Allah menjaga bapak ibuk lewat kita ini, termasuk dengan cara belum menghadirkan jodoh kita sekarang, hehehe
SS : Hehehe, iya juga ya. Doa kita emang selalu terjawab, Cuma jawabannya saja yang kadang mesti diresapi lagi :)
Dan sepanjang sisa perjalanan itu, kegalauan kami menipis *halahh* alhamdulillah…

Selang beberapa hari, saya bertukar kabar dengan sahabat yang telah menikah, ada 2 orang; pertanyaan standar…Gimana kabarnya sekarang setelah nikah? Jawabannya ternyata kompak sama, Alhamdulillah luar biasa!
Haahh..terima kasih, terima kasih. Akhirnya sekarang saya galau lagi :D

(insyaAllah, bersambung…)


gambar dipinjam dari sini

Jumat, 19 Agustus 2011

Takdir dan Pilihan


Pagi itu hape saya bernyanyi-nyanyi nyaring. Membuyarkan kegiatan saya di dapur; membuat minuman pagi..buat saya sendiri, hehehe. Sekali tekan, sebuah nama tak asing nampak dan membaca isi pesannya membuat saya tertegun, “Karena takdir ini tidak lagi menawarkan pilihan Dek…”. Saya terdiam, tak begitu mengerti harus menjawab apa, membalas bagaimana, jari tangan pun terasa kaku—sebanding dengan lidah yang kelu jika harus merangkai rinai kata.

Pilihan..pilihan..pilihan. Kenapa ada orang yang merasa bahwa takdirnya tidak memberikan pilihan, sekaligus orang-orang yang merasa kebingungan atas banyaknya pilihan?! Tapi jika direnungkan lagi, sungguhkah takdir tidak memberikan pilihan?


Takdir dan pilihan #edisi satu

Di sebuah ruang berukuran sekitar 3x2 meter persegi berdinding putih, dengan sosok ramping berkacamata dan jas putih; dokter!! :D

Sore itu saya yang masih seusia SD diperiksa dengan seksama akibat demam dan batuk pilek, penyakit rutin.

“Biar cepet sembuhnya ini harus disuntik ya,” kata pak dokter.

Saya menggeleng kuat-kuat, selama ada pilihan maka jarum suntik silakan jauh-jauh dari saya.

“Tapi kalau disuntik nanti sembuhnya lebih cepat daripada kalau minum obat,” dokter nan ramah itu berusaha menjelaskan.

Bagi saya kalimat itu menjadi penolong, ahaa..berarti saya masih punya pilihan dalam menghadapi takdir sakit ini kan. Antara jarum suntik dan obat oral :p

(selanjutnya cukup jelas apa pilihan saya :D)

Takdir dan pilihan #edisi dua

Sambungan telepon senja itu bergemerisik. Selain mungkin karena kualitas sinyal, sepertinya ada ‘bonus’ isakan di ujung sana :(

“Kenapa kamu masih juga tertawa.. Kenapa masih juga begitu tenang bercerita..”, tuntutnya.

Si Gadis Muda tersenyum di balik genggam hapenya, “Tak apa, memang harus seperti ini kan.”

“Tapi pasti hatimu sakit, pasti kamu pun sedih...kenapa masih juga tertawa?!”

Kembali si Gadis Muda tersenyum, “Karena memang inilah takdirnya.. Bisa saja kalau akan terus-menerus kutangisi, marah, kecewa. Tapi apakah itu mengubah keadaan? Tidak. Jadi kenapa tidak berusaha ikhlas dan tetap tersenyum saja?!”

Sesaat senyap di ujung telepon satunya. Seandainya jemari sanggup terulur, ingin rasanya si Gadis Muda menyeka hasil isak yang terdengar lemah itu.

(hmm..makna kedua dari pilihan dalam takdir)


Pilihan..pilihan..pilihan. Ternyata keadaan telah mengajari saya bahwa dalam takdir selalu ada pilihan. Hanya terkadang jenisnya adalah dua hal yang perlu dilihat dari sudut pandang berbeda. Terkadang takdir itu sendiri datang sebagai sebuah bentuk pilihan, yang perlu kita cermati dan kita putuskan. Mana yang lebih baik, mana yang lebih ma’ruf. Namun terkadang juga takdir datang serupa ketetapan yang tak tertawar. Namun apa itu berarti kita tidak punya pilihan?! Rasanya bukan. Hanya saja pilihannya menjadi berubah sisi. Pilihannya terletak pada sikap kita akan takdir tersebut…

Jeda sekian menit dari sms yang saya terima, seiring kopi krim saya yang mendingin, jemari mulai mengetik mantap pada mini keyboard putih saya...
"Ketika takdir yang dihadapi seakan tidak menawarkan pilihan, maka pilihan sebenarnya ada di sisi lain. Yaitu pada penyikapan kita atas takdir tersebut; antara berusaha mengingkari atau menghadapi dengan selaksa keikhlasan. Jadi selalu ada pilihan kan?! :) "

*Teruntuk separuh hati saya nan cantik, alhamdulillah tawa itu terdengar kembali :)
** Gambar dipinjam dari sini

Selasa, 19 Juli 2011

Ketika Tiba Saat Bertukar Peran

Satu pengajaran ibuk saya yang lekat sedari kecil; sambut bapak ketika kondur plus bawain tasnya. Hal tersebut masih lumayan terjaga sampai sekarang, salah satunya karena setiap kali ’nampani’ tas bapak dalam kedudukan tangan pertama maka saya dapat menemukan adanya bonus-bonus mengenyangkan di dalamnya. Ketika bonusnya tipis, ramping, dan kecil alias amplop maka ibuk yang akan sigap mengambil alih :D Lain halnya jika bonus itu berupa buntelan snack atau lauk, maka saya lah yang menjadi pemilik sahnya ;p

Kebiasaan bapak membawakan makanan kecil itu bahkan tidak berubah hingga kini usia saya merambat menuju seperempat abad. Setiap kali ada rapat, kunjungan, atau gathering biasanya ada-ada saja bawaan beliau untuk saya. Ibuk pun demikian, setiap kali rewang di Wates atau menghadiri acara yang sekiranya ada arem-arem sepertinya ingatan beliau tak bisa lepas dari saya. Maklum saya arem-ania kelas wahid :D Bahkan semenjak saya masih kuliah di Solo, seringkali makanan tersebut harus duduk manis hingga beku di kulkas hanya demi menunggu saya pulang. Seringkali juga ibuk ngendiko yang intinya mengatakan bahwa berasa gak tega kalau mau makan makanan yang anaknyapun suka. Qiqiqi..iyaa, saya tahu kali ini ibuk agak lebay. Tapi tak apalah, saya terharu juga setiap mendengarnya ;)

Jujur dulunya saya agak sulit mengerti, kenapa sih harus repot begitu. Saya tahu jatah kardus yang dibawa pulang bapak adalah jatah makan siang beliau, setelah berjam-jam duduk pegal sambil berpikir dalam rapat nan panjang. Saya tahu seplastik kacang dan sepotong kue marmer itu kudapan siang bapak setelah harus bertegang ria mengawasi ujian sekolah. Tapi di atas segala lapar dan hasrat ngemil *hiyaah, emang saya hobi ngemil ;p* beliau memilih membungkusnya rapat dan dimasukkan dalam tas, untuk kemudian saya temukan sebagai harta karun lezat…

Saya juga pernah merasakan keheranan panjang. Saya tahu ibuk harus menyisakan tempat di tas kecilnya untuk tempat arem-arem kecintaan saya, membelitkan tisu agar minyaknya tak mengenai, hanya untuk melihat saya memakannya bahkan kadang hingga melupakan cuci tangan *upss..* Buat saya dulu, tindakan-tindakan itu remeh. Tak usahlah bapak menahan lapar berlama-lama, kenapa gak didahar saja nasinya?! Didahar saja kacang dan rotinya?! Toh lain waktu saya bisa beli sendiri, yang lebih enak mungkin. Tak perlu juga ibuk ingat saya di kondangan, saya sudah gede ini..sudah kondangan sendiri kadang walaupun entah bagaimana kok ya belum juga ganti dikondangi *ahaa, curcol ;p*

Hingga siang itu ada sekotak nasi mampir di kubikel saya di kantor. Ada syukuran ternyata. Dalam kotak cukup gede itu ada nasi dengan lauk enak dan lengkap, juga buah dan kue-kue camilan. Ckckck…benar-benar sedang ada yang bersyukur sepertinya ini ;) Tiba-tiba entah bagaimana ceritanya saya teringat ibuk. Saya ingat kue ini ibuk suka juga, saya ingat buah ini biasanya bapak kerso, saya ingat lauk ini biasanya kami makan beramai-ramai di rumah… Tiba-tiba saya ingin memakan kotak nasi ini di rumah saja, kembulan bertiga kalau perlu, he3. Tapi rasanya tetap gak mungkin membawa semuanya pulang karena teman-teman lain sudah bersama-sama mulai makan, rasanya kurang enak juga. Akhirnya saya lakukan persis dengan kebiasaan ibuk, ambil tisu dan mulai menggulung kue-kue agar minyaknya terjaga aman lalu menyisihkan tempat dalam ransel hitam saya. Iyap, kali itu gantian saya yang akan membawakan sedikit harta lezat untuk bapak dan ibuk :)

Inilah waktunya ternyata, ketika saya mulai mengerti dan menyadari bahwa merambati seperempat abad mestinya mengajarkan saya akan banyak hal. Termasuk tentang peran sebagai orang-lebih-tua, yang tak lagi semata kenyang di raga tetapi lebih mengenyangkan lagi ketika kenyang itu mencapai rasa. Ada peran yang rasanya bergeser, saya kini lebih tua..itu pasti, tapi akankah saya menjadi lebih dewasa..itu pilihan. Yang jelas saya langsung kenyang ketika melihat ibuk dan bapak melahap kue-kue itu sembari bercengkerama. Subhanallah..sekarang saya mengerti rasanya ;)

Rabu, 15 Juni 2011

Laa Tahzan...bukan sebuah resensi buku ;)


Dalam kehidupan pasti akan ada yang berubah maupun yang bertambah,

Entah tambahan itu apakah suatu hal yang menyenangkan ataukah hal yang menyedihkan..

Banyak hal yang terjadi menjadi sebuah penyesalan bahkan awal dari alasan sebuah kesedihan yang tiada akhir..

Namun ketika kita tidak berusaha mencari alasan-alasan yang baik dari sebuah penderitaan yang kita alami…

Seakan-akan kesedihan yang kita alami menjadikan kita sebagai orang yang terburuk keadaanya…

Sudahkah kita belajar untuk melihat kebawah…


Ya benar..

Melihat kebawah…


Ternyata ada saja yang masih harus kita syukuri dari banyaknya kesedihan yang kita alami..

Terkadang sulit untuk kita mencari jawaban mengapa suatu musibah justru terjadi pada diri kita sendiri…

Kenapa bukan orang lain? Kenapa bukan orang yang bergembira itu? Kenapa bukan orang yang selalu bahagia itu…

Tapi tidakkah kita sadari bahwa kita hanya melihat dari sudut pandang mata kita. Bagaimana dengan Allah yang Maha Melihat dan Maha Bijaksana…


Tidak kita sadari semua, bahwa sudut pandang kita begitu sempit dan sangat sempit…

Allah melihat dari segala sudut yang tidak akan pernah dapat dijangkau oleh manusia…

Bukankah kitapun manusia.. milik Dia Yang Maha Kuasa,..

Berhakkah sebenarnya kita protes…?

Padahal kita adalah milik-Nya.

Sebuah pertanyaan yang tentu kita tahu jawabannya…

Berusahalah merenung dengan pertanyaan-pertanyaan itu.. Berusahalah untuk mencari jawaban positif dari pertanyaan-pertanyaan itu….


Suatu ketika, ada seorang melaporkan kepada Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Abu Darda’ radliallahu ‘anhu pernah mengatakan: “Fakir itu lebih aku cintai dari pada kaya dan sakit lebih aku sukai dari pada sehat.” Setelah mendengar laporan ini, Hasan mengatakan: “Semoga Allah mengampuni Abu Darda’, adapun yang benar, saya katakan:

من اتكل على حسن اختيار الله له لم يتمن غير الحالة التي اختار الله له

“Barangsiapa yang bersandar kepada pilihan terbaik yang Allah berikan untuknya, dia tidak akan berangan-angan selain keadaan yang pilihkan untuknya.” (Kanzul Ummal, Ali bin Hisamuddin al-Hindi)


Entahlah.. seakan-akan manusia terus berusaha melawan kodratnya… Hingga ia tenggelam dengan permasalahannya sendiri yang tiada habisnya.

Lalu lupakah kita tentang hakikat sebenarnya kita diciptakan?

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون

” Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (Q.S. Adzariyat :56)


Jadi ketika pena diangkat dan catatan takdir telah kering, haruskah kita protes?

Menjalani dengan penuh tawakal dan berusaha menunaikan kewajiban.. mungkin adalah obatnya… yah setidaknya dari pada berkubang dengan kesedihan yang kita masih belum tahu apakah hikmahnya…


بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

” tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati” (Q.S. Al-Baqarah:112)


Jika engkau seorang yang bertauhid, untuk apa bersedih, untuk apa mengeluh, untuk sesuatu yang sebenarnya akan engkau jalani…

Percayalah, bukankah Allah tidak akan membebani seseorang di luar kesanggupannya…

Mungkin pertanyaan ini adalah hal yang harus engkau renungi,…

Agar engkau yakin, semua pasti bisa engkau lewati dengan baik…

Karena percayalah selalu…..

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6)

” maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (Q.S. Al-insyirah: 5 – 6)


Jadi, untuk apa engkau bersedih lagi,,

Tersenyumlah untuk dunia yang akan, engkau jalani,…

Setidaknya… itulah satu cara untuk mengurangi kesedihanmu … yang insyaallah akan berlalu dan akan diselingi kebahagiaan kembali…

Karena percayalah Allah sayang padamu…..

(diambil utuh dari artikel www.muslimah.or.id berjudul Jangan Bersedih, dengan sedikit editing penulisan kata yang salah ketik *ampun, tetep dah ;p)


Satu hal yang saya sering 'heran', ketika dihadapkan masalah yang ukurannya huge...kok sepertinya Allah itu justru 'menggoda' sejauh mana kesanggupan kita (atau saya?) untuk tetap tersenyum ya?!

*beberapa tahun lalu, ketika sedang ingin cemberut karena dihindari seorang teman... eh kok ya bapak, ibuk dan sepupu-sepupu saya malah sedang main badminton dengan seru-serunya. Lah rugi dong saya kalau tetap bertahan dengan kecemberutan itu. Akhirnya saya menyerah, ikut main badminton sambil ketawa-ketawa :D

*Beberapa bulan yang lalu, ketika dihadapkan pada persimpangan hidup (cailah, bahasanya ;p) kok ya justru berbarengan dengan waktu berkumpulnya perserikatan keponakan saya. Huhuhu, jelas rugi besar saya kalau melewatkan kesempatan bergembira ria sebesar itu. Batal lagi deh sedihnya :D

*Beberapa minggu lalu, ketika saya harus 'tertatih-tatih' menyusuri koridor RS sendirian tanpa pengantar #lebay, ternyata saya masih dipingpong menuju kios fotokopi. Sedikit agak menghela napas saya membawa langkah ke sana, tapi bayarannya setimpal. Di sana saya mendapat teman-teman berbincang tentang serunya pertandingan bulutangkis semalam, dan diskusi singkat final Liga Champion!! :D
(ehm, saya dan pak satpam menjagokan el Barca; jelas kan saya layak bahagia kemudian ;p)

*dan beberapa hari belakangan, ketika secara 'mengejutkan' saya harus merombak arahan masa depan #semakinlebay, kok yaa...ternyata berbarengan dengan kedatangan 3 ponakan lucu; dan agenda-agenda kumpul dengan teman SMA yang jelas-jelas membuat perut saya kembung dengan riuhnya canda. Jadi bagaimana saya mau pasang muka sedih coba ?! ;)

Jadi ketika mendapatkan artikel di atas dalam inbox email saya, lengkap sudah saya kehabisan alasan untuk melarutkan diri dalam sebuah hal yang bernama kesedihan. Meski saya juga mengakui, saya juga bisa bersedih, bisa menangis, bisa juga panen duka dan rasa sakit...tapi tidak ada yang bisa menghalangi saya (atau kita ^_^) untuk tetap merasakan senyum;

karena seperti kalimat di akhir artikel itu, seperti apapun sedih itu--selama kita masih diberikan napas--berarti Allah masih sayaaang pada kita...

Jazakumullah ya, untuk semuanya..atas semuanya ^_^

Gambar dipinjam dari sini

Jumat, 25 Maret 2011

My Fb Status One Day...


Jika tawakal itu adalah sebuah kapal, maka besarnya selau lebih dari muatan yang hendak kita isikan.
Jika keikhlasan adalah sebentuk ruang, maka luasnya selalu lebih dari bagian yang hendak kita gunakan.

Dan jika keduanya dibutuhkan, berikan saja...insyaAllah mengiringkan kelapangan :)



gambar dipinjam dari sini


*simple posting, sekedar memenuhi kerinduan pribadi untuk membuat new post di tengah 'gilanya' kesibukan T_T

Jumat, 25 Februari 2011

Tentang Rasa

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu cintai sesuatu, padahal jahat akibatnya.”

Sesisir kata itu telah begitu lama membayangi netra, tapi dalam juga kah getar pemahaman yang dibawanya.. Ada kalanya hati mampu kuat menghadapi, dan ada kalanya pula terasa sungguh berat untuk dijalani,
Sekali lagi tentang rasa,
Tentang hati,
Yang senantiasa terbolak-balikkan oleh kehendak Illahi Rabbi…

Ya akhi,
Terpahami sungguh bahwa di sangkamu ia lah sang bidadari, tapi ada kalanya pandang kita tersamar ilusi. Penilaian kita sedikit banyak terwarnai semata oleh kecondongan hati, padahal kita diberinya akal untuk lebih menimbangkan segala hal;
Bukankah, kema’rufan sejati lah yang kita cari…
Segala usaha dalam kebenaran telah kau tempuhi, dan ketika sampai pada titik kesadaran akan kuasa Illahi, adakah engkau tetap akan berkeras menghindari?!
Ada takdir-Nya yang telah tertulis rapi, dan hanya selaksa keikhlasan hati yang akan menuntunmu menjalani…

Ya ukhti,
Termengerti penuh bahwa dalam timbangmu adalah dia yang terbaik. Dalam ranah akhlak, bahkan segala kecukupan raga. Hanya saja kadang sisi kebaikan yang lebih utama jadi terlupa. Akan tetap mampukah berbahagia di atas pemaksaan rasa?!
Bukankah, kedamaian hakiki yang kita damba…
Beragam daya kebaikan engkau gelarkan dalam membuka jalan, dan jika tetap sampai pada titik yang nadir untuk dipungkiri, masihkah engkau hendak mengeraskan hati?
Ada jalan rencana-Nya yang terkadang di luar batas logika, dan yang kita lakukan cukup sekedar menjaga ikhsannya prasangka…

Tak ada daun jatuh pun yang tak tercatatkan dalam Lauh Mahfudz-Nya,
Tak ada sedepa langkah pun yang luput dari amatannya-Nya,
Dan tak ada setetespun air mata yang luput dari hitungan balasan-Nya,
Jika memang ditakdirkan bersama...akan amat mudah bagi-Nya nanti berikan cara,
Hanya saja setiap insan harus memahami batasan usaha…dan lebih utamakan jalan keridhoan-Nya meski berat terasa,
Sungguh, dalam percaya pada-Nya, tak akan pernah ada yang tersia-sia…

Seiring kesadaran yang merambat perlahan, teringat sendu taubat Nabi Adam, dan mengiringi ucap doa perlahan:

قَالاَ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi... (QS Al A'raf: 23)