Tampilkan postingan dengan label renunganKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renunganKU. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 September 2011

Jodoh dan Pernikahan I: Khusnudzan Saja :)


Masa perkuliahan tentunya menyisipkan berbagai hal dalam hidup kita. Bagi saya, itu termasuk dengan adanya banyak sahabat yang hadir; yang menjejakkan berbagai rupa warna di hati dan hari saya. Dan karena kesemuanya yang merupakan karib adalah wanita, yang otomatis usianya adalah kurang lebih sama, maka bahasan terhangat kami juga cenderung sama..tak lain tak bukan adalah tentang jodoh :D

Beragam liku kami ketika menghadapi satu kata sakti itu. Ada yang lancar jaya begitu lulus tak lama kemudian menikah, menyadari bahwa mereka amatlah saling melengkapi, dan sekarang sedang menantikan kelahiran buah hati—semoga lancar ya sobat :)—Ada yang perlu sekian saat menyadari bahwa sudah waktunya mereka menikah saja, bahwa insyaAllah yang mereka punya akan cukup adanya, dan voilaa..menikahlah mereka—kabar calon ponakan ditunggu ya sobat ;)—Ada juga yang masih menggigiti es krim(*atau lazimnya saja; jari, he3)sebab yang dinanti belum kunjung tiba, atau tiba tapi segera berangkat lagi… (emangnya angkot :D).

Subhanallah saya termasuk kategori belakangan :D Entah bagaimana tapi rasanya saya mulai bisa menikmati likunya proses ini dengan cukup tenang, bahkan terkadang tersenyum simpul dengan kisah kawan yang lain, he3, dasarr. Ada satu waktu saya berbagi cerita dengan seorang sahabat, hingga dari saya terlontar kata-kata bahwa mungkin kitalah yang dipandang Allah belum siap bertemu jodoh. Esok paginya, uthuk-uthuk sahabat saya itu sms…untuk berucap resah bahwa itu artinya dia pun masih cukup buruk. Duuh…saya terhenyak, astaghfirullah rasanya saya salah ucap :( Akhirnya saya renewing kalimat saya. Saya bilang itu hanya salah satu dugaan lah, sebenarnya maksud Allah bisa apapun. Tapi bukankah akan terasa jauh lebih nyaman jika kita berkhusnudzan saja sama Allah…dan menumbuhkan alasan yang akan mendorong sikap positif kita, misalnya dengan senantiasa memperbaiki diri?! :)

Lain kesempatan, lain sahabat, lain pula kisahnya. Saya pun paham, secara logika manusia tampaknya akan lebih baik dia bersuami sekarang. Bukan apa-apa, hanya saja seorang suami insyaAllah akan lebih bisa mendampingi dan menentramkan hati…24 jam sehari, 7 hari seminggu (*semacam iklan itu lah.. :p) Tapi apa nyatanya, Allah tetap belum juga menghadirkan jodohnya. Kenapa ya? Tanyanya. *pegang dagu* Saya pun berpikir keras. Ahaa, lalu saya coba bilang…iya rasanya memang akan indah kalau di saat kita merasa lemah seperti ini kita punya suami yang akan jadi sandaran. Tapiii…mungkin Allah tahu jika suami itu hadir sekarang, kita justru hanya akan ‘rajin’ bersandar, berharap penguatan. Makaa, mungkin Allah bermaksud menjadikan kita lebih kuat dulu, kuat bertahan dan tegak sendiri dulu, agar ketika suami yang kita nanti itu hadir maka kita tidak kemudian semata selalu bersandar padanya. Sebab dia pun adalah manusia, yang suatu waktu bisa lemah juga… Alhamdulillah efeknya lumayan, saya pun jadi tenang dengan kalimat saya sendiri itu, he3.

Rasanya saya kok santai sekali gitu ya. Yaa entah juga sih kenapa, kalau saya bilang karena percaya jodoh saya pasti sudah ada rasanya klise ya. Pada kenyataannya kesadaran seperti itu terkadang kurang manjur juga untuk mengusir galau *akhirnya terpaksa pakai kata ini juga, hehehe* Sampai kemarin saya mendapat inspirasi sederhana, ketika sedang menumpang bus bersama sahabat saya—ke akad nikah sahabat saya lainnya, tepat sekali :D—inilah percakapan ‘aneh’ kami:
Saya(S) : Eh aku sekarang mikirnya gini…
Sahabat Saya (SS) : Apa?
S : Doa apa yang mesti kita baca setelah salat, atau bahkan setiap saat?!
SS : Doa untuk kedua orang tua kan?
S : Yep, kita minta Allah menjaga orang tua kita..menyayangi keduanya.
SS : Terus?
S : Ya inilah, Allah sedang mengabulkan doa kita itu. Ya Allah menjaga bapak ibuk lewat kita ini, termasuk dengan cara belum menghadirkan jodoh kita sekarang, hehehe
SS : Hehehe, iya juga ya. Doa kita emang selalu terjawab, Cuma jawabannya saja yang kadang mesti diresapi lagi :)
Dan sepanjang sisa perjalanan itu, kegalauan kami menipis *halahh* alhamdulillah…

Selang beberapa hari, saya bertukar kabar dengan sahabat yang telah menikah, ada 2 orang; pertanyaan standar…Gimana kabarnya sekarang setelah nikah? Jawabannya ternyata kompak sama, Alhamdulillah luar biasa!
Haahh..terima kasih, terima kasih. Akhirnya sekarang saya galau lagi :D

(insyaAllah, bersambung…)


gambar dipinjam dari sini

Selasa, 19 Juli 2011

Ketika Tiba Saat Bertukar Peran

Satu pengajaran ibuk saya yang lekat sedari kecil; sambut bapak ketika kondur plus bawain tasnya. Hal tersebut masih lumayan terjaga sampai sekarang, salah satunya karena setiap kali ’nampani’ tas bapak dalam kedudukan tangan pertama maka saya dapat menemukan adanya bonus-bonus mengenyangkan di dalamnya. Ketika bonusnya tipis, ramping, dan kecil alias amplop maka ibuk yang akan sigap mengambil alih :D Lain halnya jika bonus itu berupa buntelan snack atau lauk, maka saya lah yang menjadi pemilik sahnya ;p

Kebiasaan bapak membawakan makanan kecil itu bahkan tidak berubah hingga kini usia saya merambat menuju seperempat abad. Setiap kali ada rapat, kunjungan, atau gathering biasanya ada-ada saja bawaan beliau untuk saya. Ibuk pun demikian, setiap kali rewang di Wates atau menghadiri acara yang sekiranya ada arem-arem sepertinya ingatan beliau tak bisa lepas dari saya. Maklum saya arem-ania kelas wahid :D Bahkan semenjak saya masih kuliah di Solo, seringkali makanan tersebut harus duduk manis hingga beku di kulkas hanya demi menunggu saya pulang. Seringkali juga ibuk ngendiko yang intinya mengatakan bahwa berasa gak tega kalau mau makan makanan yang anaknyapun suka. Qiqiqi..iyaa, saya tahu kali ini ibuk agak lebay. Tapi tak apalah, saya terharu juga setiap mendengarnya ;)

Jujur dulunya saya agak sulit mengerti, kenapa sih harus repot begitu. Saya tahu jatah kardus yang dibawa pulang bapak adalah jatah makan siang beliau, setelah berjam-jam duduk pegal sambil berpikir dalam rapat nan panjang. Saya tahu seplastik kacang dan sepotong kue marmer itu kudapan siang bapak setelah harus bertegang ria mengawasi ujian sekolah. Tapi di atas segala lapar dan hasrat ngemil *hiyaah, emang saya hobi ngemil ;p* beliau memilih membungkusnya rapat dan dimasukkan dalam tas, untuk kemudian saya temukan sebagai harta karun lezat…

Saya juga pernah merasakan keheranan panjang. Saya tahu ibuk harus menyisakan tempat di tas kecilnya untuk tempat arem-arem kecintaan saya, membelitkan tisu agar minyaknya tak mengenai, hanya untuk melihat saya memakannya bahkan kadang hingga melupakan cuci tangan *upss..* Buat saya dulu, tindakan-tindakan itu remeh. Tak usahlah bapak menahan lapar berlama-lama, kenapa gak didahar saja nasinya?! Didahar saja kacang dan rotinya?! Toh lain waktu saya bisa beli sendiri, yang lebih enak mungkin. Tak perlu juga ibuk ingat saya di kondangan, saya sudah gede ini..sudah kondangan sendiri kadang walaupun entah bagaimana kok ya belum juga ganti dikondangi *ahaa, curcol ;p*

Hingga siang itu ada sekotak nasi mampir di kubikel saya di kantor. Ada syukuran ternyata. Dalam kotak cukup gede itu ada nasi dengan lauk enak dan lengkap, juga buah dan kue-kue camilan. Ckckck…benar-benar sedang ada yang bersyukur sepertinya ini ;) Tiba-tiba entah bagaimana ceritanya saya teringat ibuk. Saya ingat kue ini ibuk suka juga, saya ingat buah ini biasanya bapak kerso, saya ingat lauk ini biasanya kami makan beramai-ramai di rumah… Tiba-tiba saya ingin memakan kotak nasi ini di rumah saja, kembulan bertiga kalau perlu, he3. Tapi rasanya tetap gak mungkin membawa semuanya pulang karena teman-teman lain sudah bersama-sama mulai makan, rasanya kurang enak juga. Akhirnya saya lakukan persis dengan kebiasaan ibuk, ambil tisu dan mulai menggulung kue-kue agar minyaknya terjaga aman lalu menyisihkan tempat dalam ransel hitam saya. Iyap, kali itu gantian saya yang akan membawakan sedikit harta lezat untuk bapak dan ibuk :)

Inilah waktunya ternyata, ketika saya mulai mengerti dan menyadari bahwa merambati seperempat abad mestinya mengajarkan saya akan banyak hal. Termasuk tentang peran sebagai orang-lebih-tua, yang tak lagi semata kenyang di raga tetapi lebih mengenyangkan lagi ketika kenyang itu mencapai rasa. Ada peran yang rasanya bergeser, saya kini lebih tua..itu pasti, tapi akankah saya menjadi lebih dewasa..itu pilihan. Yang jelas saya langsung kenyang ketika melihat ibuk dan bapak melahap kue-kue itu sembari bercengkerama. Subhanallah..sekarang saya mengerti rasanya ;)

Jumat, 25 Maret 2011

My Fb Status One Day...


Jika tawakal itu adalah sebuah kapal, maka besarnya selau lebih dari muatan yang hendak kita isikan.
Jika keikhlasan adalah sebentuk ruang, maka luasnya selalu lebih dari bagian yang hendak kita gunakan.

Dan jika keduanya dibutuhkan, berikan saja...insyaAllah mengiringkan kelapangan :)



gambar dipinjam dari sini


*simple posting, sekedar memenuhi kerinduan pribadi untuk membuat new post di tengah 'gilanya' kesibukan T_T

Jumat, 25 Februari 2011

Tentang Rasa

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu cintai sesuatu, padahal jahat akibatnya.”

Sesisir kata itu telah begitu lama membayangi netra, tapi dalam juga kah getar pemahaman yang dibawanya.. Ada kalanya hati mampu kuat menghadapi, dan ada kalanya pula terasa sungguh berat untuk dijalani,
Sekali lagi tentang rasa,
Tentang hati,
Yang senantiasa terbolak-balikkan oleh kehendak Illahi Rabbi…

Ya akhi,
Terpahami sungguh bahwa di sangkamu ia lah sang bidadari, tapi ada kalanya pandang kita tersamar ilusi. Penilaian kita sedikit banyak terwarnai semata oleh kecondongan hati, padahal kita diberinya akal untuk lebih menimbangkan segala hal;
Bukankah, kema’rufan sejati lah yang kita cari…
Segala usaha dalam kebenaran telah kau tempuhi, dan ketika sampai pada titik kesadaran akan kuasa Illahi, adakah engkau tetap akan berkeras menghindari?!
Ada takdir-Nya yang telah tertulis rapi, dan hanya selaksa keikhlasan hati yang akan menuntunmu menjalani…

Ya ukhti,
Termengerti penuh bahwa dalam timbangmu adalah dia yang terbaik. Dalam ranah akhlak, bahkan segala kecukupan raga. Hanya saja kadang sisi kebaikan yang lebih utama jadi terlupa. Akan tetap mampukah berbahagia di atas pemaksaan rasa?!
Bukankah, kedamaian hakiki yang kita damba…
Beragam daya kebaikan engkau gelarkan dalam membuka jalan, dan jika tetap sampai pada titik yang nadir untuk dipungkiri, masihkah engkau hendak mengeraskan hati?
Ada jalan rencana-Nya yang terkadang di luar batas logika, dan yang kita lakukan cukup sekedar menjaga ikhsannya prasangka…

Tak ada daun jatuh pun yang tak tercatatkan dalam Lauh Mahfudz-Nya,
Tak ada sedepa langkah pun yang luput dari amatannya-Nya,
Dan tak ada setetespun air mata yang luput dari hitungan balasan-Nya,
Jika memang ditakdirkan bersama...akan amat mudah bagi-Nya nanti berikan cara,
Hanya saja setiap insan harus memahami batasan usaha…dan lebih utamakan jalan keridhoan-Nya meski berat terasa,
Sungguh, dalam percaya pada-Nya, tak akan pernah ada yang tersia-sia…

Seiring kesadaran yang merambat perlahan, teringat sendu taubat Nabi Adam, dan mengiringi ucap doa perlahan:

قَالاَ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi... (QS Al A'raf: 23)

Rabu, 19 Januari 2011

Ssttt…Saya Sedang Jatuh Cinta :)

Mengenyam bangku kuliah pada jurusan yang mengharuskan saya menulis ratusan lembar laporan praktikum, mau tidak mau membuat saya akrab dengan sebuah benda bernama pulpen, terutama pulpen dengan warna tinta hitam. Sederhana saja, karena semua laporan harus ditulis tangan dengan pulpen berwarna tinta hitam tersebut ;)

Akan tetapi semenjak memasuki dunia kerja, dengan agenda mengoreksi dan menyusun rupa-rupa hal ‘kecil’ dan njlimet, saya jadi semakin dekat dengan benda lain bernama pensil. Alasannya juga sederhana, dengan pensil saya merasa lebih bebas menulis karena tidak perlu takut salah. Ada sebentuk penghapus yang akan setia membereskan kekacauan kecil saya atas setiap tulisan :D

Sepertinya semua berjalan biasa-biasa saja, hingga sore tadi saya membaca artikel indah tentang soulmate baru saya, si Pensil, itu. Ternyata ada banyak kualitas luar biasa yang bisa kita pelajari dari sebatang pensil! Dan beginilah rinciannya:

Kualitas pertama:
Sebatang pensil mengingatkan kita bahwa seindah apapun hasil torehannya, semua itu tidak lepas dari kepandaian tangan yang menggerakkan pensil tersebut. Pun dalam hidup kita, sehebat apapun karya yang kita hasilkan; semua itu tidak pernah lepas dari Tangan-Nya yang senantiasa membimbing goresan langkah kita dalam hidup :)

Kualitas kedua:
Setiap waktu-waktu tertentu, pensil akan memerlukan rautan. Jika dilihat proses meraut itu menyakitkan ya, tapi sesudahnya akan kita dapati pensil kita akan menjadi semakin tajam. Sebagaimana dalam hidup kita, akan ada saat-saat di mana kita harus menjalani beragam tantangan dan ujian yang kadang begitu menyakitkan. Tetapi seusainya kita akan menyadari betapa semua itu menjadikan diri kita semakin bijak dan semakin kuat :)

Kualitas ketiga:
Seperti kenyamanan saya dengan pensil, setiap goresan pensil senantiasa memberikan kesempatan bagi kita untuk melakukan koreksi dengan penghapusnya. Dan hal itu mengajarkan kita bahwa ‘melakukan koreksi’ bukanlah suatu hal yang nista. Karena memang setiap kita pastilah pernah melakukan kesalahan bukan?! :)

Kualitas keempat:
Lihat juga, bagian apakah yang membedakan berbagai jenis pensil? Bagian isinya bukan?! Yep, bagian isinya, bagian dalamnya, bukan tampilan luarnya. Sebagaimana kita sebagai manusia, hati kitalah yang menjadi inti diri kita, karena setiap laku kita adalah cerminan hati kita. Dan sebatang pensil itu telah menunjukkan bahwa inti lah yang terpenting, sebagaimana keindahan hati kita lah yang juga lebih penting :)

Kualitas kelima:
Sebagaimana setiap gerak pensil yang menghasilkan goresan, ada kalanya goresan itu keliru sehingga kita meraih penghapus. Tetapi yang juga harus kita ingat adalah bahwa penghapus itu belum tentu dapat menghilangkan kesalahan gores dengan bersih, akan selalu ada bekas walaupun samar. Demikian juga dengan setiap laku kita dalam hidup, kita harus senantiasa berhati-hati agar tidak membuat laku keliru, yang kita sendiri akan kesulitan untuk menghapusnya. Semampunya, mari berusaha menggoreskan laku yang bermanfaat bagi sesama :)

Tetapi untuk memenuhi prinsip keseimbangan, mungkin ada yang bisa menyebutkan kekurangan pensil?! Saya beri petunjuk yaa, itu tuh yang ada di film 3 Idiots... ;) Yep, sayangnya si pensil ini tidak bisa digunakan di pada proyek luar angkasa gara-gara bisa jadi patahan ujungnya akan melukai para astronot di ruang hampa sana, he3

Itulah kelima hal yang saya temukan sore kemarin, yang seperti judul yang saya tuliskan di atas sana, telah membuat saya ingin berkata; Ssttt..saya sedang jatuh cinta, sama si Mungil Berhikmah itu tentunya ;)

*disarikan dari tulisan Mr. Andrie Wongso, pada majalah HADILA edisi 42, Desember 2010

Kamis, 16 Desember 2010

Trying To Let It Go...

MENEMUKAN SEBUAH KISAH YANG BEGITU MENYENTUH:

Suatu Hari seorang bapak tua hendak menumpang bus.Pada Saat ia Menginjakkan Kakinya ke tangga,salah satu sepatunya terlepas & terjatuh ke jalan.Lalu pintu pun tertutup & Bus mulai bergerak,Sehingga ia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi.Si Bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah & melemparkannya keluar jendela.

Seorang pemuda yg duduk dalam bus melihat kejadian itu,dan bertanya kepada si bapak tua, " Aku memperhatikan apa yg anda lakukan Pak.Mengapa anda Melemparkan sepatu anda yg sebelah juga?
"Si bapak tua menjawab,"Supaya siapapun yg menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya."

*Sungguh, kita harus mampu jujur kepada diri sendiri tentang mengapa kita mempertahankan sesuatu sekukuh-kukuhnya. Karena apakah? Karena ia bermanfaat? Atau sekedar kita tidak ingin ia dimiliki orang lain, meskipun juga kita tahu sepertinya akan lebih baik lagi jika ia tidak dipertahankan?!*



___Si bapak tua dalam cerita di atas memahami filosofi dasar dalam hidup - jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya___

___Kita kehilangan banyak hal disepanjang masa hidup.Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil & merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita___

___Kalimat di atas tidak dapat diartikan kita hanya boleh kehilangan hal-hal jelek saja.Kadang,kita juga kehilangan hal yg baik.Supaya kita bisa menjadi dewasa secara emosional dan spiritual,pertukaran antara kehilangan sesuatu dan mendapatkan sesuatu haruslah terjadi___

*Sebuah pelajaran besar untukku, dan membuatku semakin memahami bahwa dalam dunia senyatanya kita tidak belajar dari teori tetapi dari pengalaman. Bagaimana menjaga apa yang kita miliki, bagaimana menyayangi apa yang kita punya, seringkali diajarkan dengan kehilangan. Semoga aku benar-benar belajar kali ini, dan menjadikanku lebih baik lagi ke depan. Alhamdulillah ya Allah... :)*

Sumber dari sini dan gambar dari sini.

Rabu, 15 Desember 2010

Menjaga Prasangka

Adakah peristiwa yang berlangsung lebih dari sepuluh tahun lalu dan masih senantiasa membekas di benak anda? Bisa ya bisa pula tidak :) Bagi saya, ada suatu kisah yang masih membekas karena hikmahnya ternyata belum begitu lama mampu benar-benar saya pahami…

Alkisah, saya sedang menonton pawai tujuh belasan waktu itu. Lokasinya di dekat perlintasan kereta api, sebuah pertigaan, yang salah satu arahnya adalah arah menuju RSUD Wates. Penonton yang berjubel otomatis menutup jalan utama yang menuju rumah sakit tersebut. Di tengah ramainya suasana, sebuah mini van berusaha menyeruak kerumunan. Karuan saja pak polisi bertindak dan terjadilah suatu dialog dengan sang pengemudi mobil. Karena posisi saya cukup jauh untuk mendengarkan, jadilah saya hanya menilai alangkah ngaconya mobil yang hendak meminta jalan tersebut. Namun sejurus kemudian saya juga terkejut melihat seorang wanita yang duduk di sebelah pengemudi mobil itu. Di tangannya tampak seorang anak yang rapat terbalut kain dan direngkuh dengan gemetaran sepertinya. Ketika lebih jelas saya amati pun, raut kedua orang tersebut tampak cemas dan terburu-buru. Tak berapa lama, mobil tersebut dibiarkan lewat dan meluncur cepat ke arah rumah sakit.

Jika anda menjadi saya, samakah yang kita pikirkan?! :) Awalnya saya juga kesal melihat mobil tersebut yang mengganggu kemeriahan pawai, tapi tak butuh berapa lama saya sadar saya keliru. Tentulah ada alasan ‘besar’ mengapa mobil tersebut memberanikan diri menembus kerumunan, dan ternyata—sepenangkapan saya—ada anak yang sedang sakit di dalamnya. Masih kesalkah saya kemudian?! Tidak ternyata, saya mengerti, orang tersebut punya alasan, dan alasannya penting :)

Bertahun-tahun kemudian saya baru benar-benar bisa memahami hikmah endapan ingatan tersebut, tak lain adalah tentang prasangka. Mudah ya untuk merasa kesal dan marah pada mobil tersebut, dan bisa jadi saya juga tidak tertarik mengapa mobil itu berusaha menyeruak kerumunan, pokoknya ngeselin, titik. ;D Tapi, ketika saya sedikit menajamkan mata dan mengamati, oh..ternyata ada anak yang sakit di dalamnya. Oh..kasihan ya kalo gak boleh lewat. Oh..keliatannya sang bapak dan sang ibu itu begitu cemas. Dan akhirnya, tak apalah minggir sejenak…

Prasangka, sebagian besarnya adalah menggiring pada dosa. Bisa dipahami dari peristiwa di atas, yaitu akan lebih mudah mengira tentang keburukan daripada kebaikan,he3. Tapi ketika kita mampu ‘memaksa’ pemikiran kita untuk lebih terbuka dan mengamati—tidak hanya sekedar melihat—maka akan lahir pemahaman baru yang bisa jadi berbeda. Pemahaman yang bernama p e n g e r t i a n :)

Sekilas dapat juga kita tengok peringatan Allah tentang bahayanya prasangka. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.  Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.  Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurât:12)

Buat saya, berprasangka itu melelahkan, itu yang jelas. Karena seperti jabaran hukum tarik menarik dalam buku The Secret. Pemikiran akan menarik hal-hal lain yang senada dengannya. Dengan demikian, pemikiran negatif a.k.a prasangka itu akan menarik lebih banyak lagi hal negatif lainnya. Sebagaimana sebaliknya, setiap pemikiran positif juga akan menghadirkan lagi lebih banyak hal positif dalam diri kita. Jadi, jika demikian, mulai sekarang mari kita perbaiki akhlaq kita semua. Dimulai dengan berprasangka baik terhadap orang lain. Kita akan berkumpul dengan orang-orang baik dan insya Allah kita akan tertular menjadi orang yang baik. Sederhana saja kan, insyaAllah :)

Daripada melelahkan diri dengan berkesal-kesal dengan orang lain, pindah arah pandangan yuuk… insyaAllah ada alasan di balik setiap tindakan. Dengan membiasakan diri berpikir demikian, insyaAllah pikiran juga akan lebih tenang, dan pada kelanjutannya kita akan bisa merasa lebih nyaman dengan segalanya. InsyaAllah juga, segala persoalan akan teratasi jika diawali dengan pemikiran yang tenang dan nyaman :)


Ps: Ketika disalip mobil yang ugal-ugalan di jalan misalnya, daripada mengumpat atau bahkan sekedar melotot, saya lebih suka berpikir begini, “Uups, jangan-jangan lagi bawa orang mau lairan tuh mobil,” dan lenyap sudah kekesalan, berganti cengiran sepanjang jalan (yang tertutup slayer tentunya ;D)

Kamis, 02 Desember 2010

Dua Pohon



Buku yang belakang judulnya Membuka Aib Saudara, kumpulan kisah teladan dari kitab Irsyadul ‘Ibad dan Durratun Nashihin. Buku yang depan sudah jelas ya ;)

Dari buku yang di depan, sekilas bayangannya kisah romansa mungkin,he3. Sudah jelas lah, Sayyidina Ali dan Sayyidah Fatimah…. ;D Tapi lebih jauh dari itu, dari keseluruhan kisah keluarga beliau ada satu hal yang baru saya sadari, yaitu tentang kedermawanan. Kalau keluarga beliau kaya raya mungkin ‘kurang begitu istimewa’ ya, tetapi pada kenyataannya keluarga beliau adalah keluarga yang sangat-sangat sederhana.

Inilah sepenggal kisahnya yang cukup menyentuh saya:
Pada suatu hari Fatimah jatuh sakit. Selama itu Ali senantiasa merawat beliau dan tak segan menggantikan tugas beliau sebagai istri. Pun Ali masih dengan tulus bertanya, adakah yang sedang diinginkan Fatimah, dengan harapan istrinya tersebut akan segera sembuh. Sejenak kemudian Fatimah menjawab bahwa ia menginginkan buah delima. Segeralah Ali berangkat ke pasar dan membeli sebuah delima. Sebuah? Ya, karena memang uang beliau hanya cukup untuk membeli sebuah delima saja :’( Dalam perjalanan pulang beliau melihat seseorang yang meringkuk di sudut jalan. Setelah percakapan singkat, tahulah beliau bahwa orang tersebut begitu miskinnya hingga sudah dua hari tidak makan. Kemudian beliau membelah delimanya menjadi dua bagian dan berkata: “Tabahkanlah hatimu. Percayalah bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang baik. Bertasbihlah kepada Allah, dan ambillah buah ini, semoga dapat meringankan penderitaanmu.”

*coba kita, punya banyak makanan pun masih suka memilih ‘pura-pura’ tidak tahu dengan sekitar kita yang masih kelaparan :(*

Ali sampai di rumah, dan menyerahkan delima yang hanya separuh itu kepada istri tercintanya. Kisah delima yang tinggal separuh itu justru membuat fatimah lega dan alhamdulillah merasa semakin membaik. Di tengah kegembiraan tersebut, sahabat Salman al Farisi bertamu sambil membawa sesuatu yang ditutup kain. Setelah mengucap salam, Salman menjelaskan bahwa yang dibawanya adalah sembilan buah delima “dari Allah, untuk rasul-Nya, dan seterusnya untuk anda.” Mendengar jawaban tersebut Ali kemudian berkata: “Tidak mungkin buah itu dari Allah. Kalau benar dari Allah, maka jumlahnya adalah sepuluh. Sebab, Allah telah berfirman “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya…”. (QS Al An’aam:160). Lalu Salman pun tersipu sambil mengeluarkan sebuah delima lagi dari lengan bajunya: “Tak terlintas dalam pikiranku untuk mengambil buah delima itu bagi diriku. Sebenarnya, aku bermaksud mengujimu, karena begitu seringnya aku mendengar Rasulullah memuji keluasan ilmu dan kecerdasanmu”.

*Subhanallah, dua hal yang saya petik dari sini; bahwa kedermawanan Ali yang begitu besar tampak dari hati beliau yang mudah tersentuh dan bersegera untuk membantu, serta kecerdasan beliau dalam memaknai ayat-ayat-Nya sehingga begitu lekas mengaitkan keadaannya dengan salah satu janji-Nya. Dan beliau percaya, sangat percaya*

Masih banyak sebenarnya kisah hikmah dari perjalanan Ahlul Bait ini, tidak akan cukup diuraikan kecuali saya akan membuat anda sekalian bosan :D Sampai di sini pun, mungkin anda sudah banyak bertanya apa kaitan semua ini dengan buku yang satunya?apa pula kaitannya dengan judulnya?? Yupi, beginilah…dari buku belakang itu saya menemukan sebuah hadis indah:
“Kedermawanan adalah pohon di dalam surga, sedang dahannya menjulur ke dunia, barangsiapa berpegang pada dahannya, dia akan dituntun oleh dahan itu menuju ke surga. Dan bakhil adalah pohon di dalam neraka, dan dahannya menjulur ke dunia, barangsiapa berpegang pada dahannya, dia akan terseret oleh dahan itu ke dalam neraka” (HR Bukhari dan Baihaqi)

Ya, ada dua pohon langit yang dahannya menjulur ke dunia. Pohon ahli surga membawa pesan kedermawanan, dan pohon ahli neraka menghantarkan pesan kebakhilan. Seiring gerakan Satu Milyar Pohon (dunia), bisa kan kita memilih pohon (langit) yang tepat untuk kita tanam pula?! ^_^

Rabu, 27 Oktober 2010

Usaha yang Barokah (InsyaAllah)

Kemarin, saya membaca sebuah kisah nyata yang Subhanallah di dakwatuna.com, ringkasnya demikian;
Seorang ibu yang tinggal di daerah Bogor merasa resah. Pasalnya semakin banyak kendaraan truk dengan bak yang bergambar wanita-wanita dengan tampilan yang 'tidak baik bagi kesehatan mata' :( Ibu tersebut berpikir betapa hal tersebut bisa jadi akan mendholimi banyak mata, sementara mata pun nantinya akan dimintai pertanggungjawaban... Dalam keresahannya, ibu tersebut kemudian bercerita pada sang suami bahwa ia ingin dapat melakukan tindakan nyata atas hal tersebut. Hingga suatu hari dengan keberanian yang sesungguhnya masih hilang timbul, ia menghentikan sebuah truk yang 'cukup parah' gambar baknya. Dengan gamblang ia mencoba menjelaskan pada sang pengemudi tentang mudharat yang dapat terjadi akibat gambar di bak truknya. Syukur alhamdulillah pengemudi tersebut mengangguk-angguk layaknya mengerti dan kemudian berlalu dengan wajar. Sang ibu akhirnya dapat--sedikit--tersenyum lega, paling tidak ia telah melakukan suatu upaya nyata bagi kemaslahatan orang lain...

Nah, sekarang sedikit dari cerita saya sendiri;
Suatu hari saya dan ibu berbelanja di pasar Beringharjo. Di salah satu kios grosir pakaian, saya sedang melihat-lihat beberapa jenis rok--dilarang ketawa ;D--ketika datang seorang wanita paruh baya berjilbab. Dari dialog yang ia lakukan dengan mbak penjaga kios, saya menduga wanita itu sepertinya pedagang pakaian juga, yang kali itu sedang mencarikan titipan seorang pembeli. Dan apakah titipannya itu?! Sebuah celana hot pants! Ketika mbak penjaga kios menunjukkan sebuah hot pants, wanita tersebut menolak dan mengatakan bahwa pesanan yang ia dapat adalah yang lebih pendek dari itu, hiyaahhh... Padahal lihat celana yang itu saja saya sudah berasa masuk angin :D

Well, dari dua kisah yang saya hadirkan di atas adakah yang dapat mengamati kaitannya?! Sebagai petunjuk, akan saya katakan bahwa yang saya soroti di sini adalah 'pembuat lukisan di bak truk' dan 'ibu berjilbab yang menjual hot pants'. Sudah dapat menebak arah tujuan saya?! Yap, yang saya maksud adalah ternyata usaha yang mereka lakukan adalah dalam hal yang kemungkinan besar akan menimbulkan kemudharatan :(
*gambar bak truk yang tidak senonoh, yang bisa jadi menimbulkan dosa pada banyak mata...
*celana hot pants yang bisa jadi mengusik syahwat banyak pria...
Paham kah maksud saya?! Menjadi pedagang, atau pengusaha pada umumnya tentulah tidak ada salahnya...bahkan Rasulullah pun seorang bisnisman; tetapi layakkah jika barang yang kita usahakan adalah barang-barang yang bisa jadi menimbulkan maksiat bagi orang lain :'(

Saya salut dengan rekan-rekan yang giat membangun usaha--tidak sekedar menjadi pekerja--itu insyaAllah mulia... Tetapi sebagaimana suatu kebaikan yang kita usahakan yang insyaAllah merupakan suatu amal jariyah, jika ternyata ada tindakan kita yang kemudian menjadikan orang lain bertindak salah maka dosa jariyah pun mungkin akan tercipta, hiks...
Afwan kalau ada yang kurang sependapat atau hendak memberikan sudut pandang lain, saya dengan senang hati menerima;
Jika ada kebaikannya, semoga dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua...

Selamat menjadi pengusaha, pengusaha muslim sukses lewat usaha yang ma'ruf, keren kan ;)

Kamis, 15 April 2010

Mahabbatullah

Sedikit nukilan dari majalah SwaraQuran. Lengkapnya sih sebuah khutbah Jum’at, tapi ada bagian yang cukup bagus untuk diShare. So here it is, semoga bermanfaat :)

Hakekat cinta itu akan tampak dalam empat kondisi:

Pertama, ketika hendak tidur, saat seluruh raga terbebas dari aktivitas. Seorang itu tidak akan tidur melainkan dengan mengingat yang ia cintai dan yang menarik hatinya.

**hee..hayo kalo mau bo2 pada nginget siapa?!! :p ayo sama-sama membiasakan diri mengingat Allah aja ya, biar selama bo2 kita dijaga-Nya. Selain cuci tangan kaki ma gosok gigi, sekalian aja sama wudhu, jadi bo2.nya juga dalam kondisi suci :)

Kedua, ketika bangun tidur. Yang pertama kali terbersit dalam hati adalah mengingat yang dicintai yang telah hilang dari ingatan ketika tidur.

**bangun bo2 jangan lupa doa lagi, kalau bukan Allah yang njagain kan kita nggak punya nikmat sehat pagi ini.. ^_^
Ketiga, ketika hendak shalat. Shalat adalah tolok ukur iman. Jika saat mengerjakan shalat hati terasa tenang dan nikmat karena mengingat-Nya maka itu bukti hakekat cintanya.

**hiks..buatku pribadi juga masih belum sepenuhnya tercapai. Tapi ayo kita berusaha sekuatnya. Shalat secara ilmiah juga sudah terbukti manfaatnya kan. InsyaAllah makin khusyuk juga makin sehat ^^
Keempat, ketika mendapatkan kesusahan. Ketika susah hati hanya teringat dengan sesuatu yang paling dicintai dan tidak berlari melainkan menuju kekasih teragung di hatinya. Seorang itu akan merasa terhibur dengan kekasih hatinya ketika musibah mendera.

**hohoho..sedikit menyindir diri sendiri juga ni :D but it’s okay, sedikit demi sedikit kita berubah ke arah yang lebih baik. Seperti lagu Sandaran Hatinya LETTO yang sebenarnya adalah lagu religius. peduli ku peduli siang dan malam yang berganti, sedihku ini tak ada arti, jika Kaulah sandaran hati.. ^_^

“Demikian pula musibah kematian, pasca kematian, dan kengerian kiamat akan terasa ringan karena rasa cinta. Bahkan, musibah terbesar yaitu musibah neraka hanya bisa dicegah dengan rasa cinta kepada Allah dan mengikuti rasul-Nya. “
Cinta yang benar juga akan mengarahkan kita ke jalan yang benar, insyaAllah :-)

Indikator Kebahagiaan di Dunia

Ibnu Abbas RA pernah ditanya oleh para tabi’in mengenai apa sajakah indikator kebahagiaan di dunia itu, dan inilah jawaban beliau..

Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah.
Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :
“Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita”. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi.
Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.

Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa pundakmu itu ?” Jawab anak muda itu : “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya”. Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?”
Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: “Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu”. Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.

Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.
Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya.
Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.

Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.
Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus”, kata Nabi SAW, “Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.

Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya.
Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.

(www.muslimah.or.id)
Mungkin setelah membaca tulisan di atas akan muncul pertanyaan, apa baru dibilang bahagia kalau punya semuanya?? Nggak juga sih kalau menurutku. Alhamdulillah..kalau kita bisa memiliki seluruhnya, he3 Tapi kalau nggak, dengan adanya salah satu saja kita harus tetap bersyukur ya, semoga Allah berkenan memberikan lebih banyak lagi ^_^

Rabu, 14 April 2010

sekali lagi..Menahan Pandangan

[“Jujur saja Dik ya hampir di semua mata lelaki ada binar liar serigala ketika melihat perempuan. Untuk itulah menurut saya kenapa kaum lelaki diminta oleh Tuhan untuk menjaga pandangan.”
( _Mari_ )
“Dan hampir semua wajah dan mata perempuan itu memiliki sihir yang mampu mengubah lelaki jadi serigala. Maka sebaiknya memang keduanya saling menjaga. Agar tetap menjadi manusia yang mulia dan tidak berubah menjadi manusia serigala.”
( _Zul_ )]

Petikan dialog dari salah satu karya Kang Abik itu membuat aku ingat sebuah artikel dari dakwatuna.com yang tersimpan di ‘folder ngaji internal’ku ;) artikel itu berjudul Ghad-dhul Bashar. Artikel itu coba ku’gado-gado’kan dengan what’s on my mind..

**menahan pandangan.. istilah itu mulai kuakrabi semenjak SMA. Alhamdulillah di SMA yang sama dengan Akh Salim, benar kata beliau, banyak hal berharga yang dapat dituai dari sejuknya Kampus Cemara tercinta :)

Menahan pandangan atau Gadh-dhul Bashar غَضُّ البَصَرِ (gadh-dhul bashar) berarti menahan, mengurangi, atau menundukkan pandangan. Bukan berarti senantiasa menatap tanah sih, tapi menahan pandangan dari hal-hal yang diharamkan untuk dipandang. Contoh yang familiar ketika ada laki-laki yang tampan atau wanita yang cantik, bisa jadi akan ada keinginan kuat untuk terus memandang. Pernah juga mendengar dialog lucu teman,”Eh..liat arah jam tiga,” yang maksudnya tidak lain dan tidak bukan adalah ada laki-laki ganteng di sebelah kanan, aya aya wae ya..

**dalil menahan pandangan ada banyak, beberapa diantaranya..

1. Al-Quran:
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (An-Nur [24]: 30-31)
Ulama tafsir menyebutkan kata min pada min absharihim bermakna sebagian. Hal tersebut menunjukkan bahwa yang diharamkan adalah pandangan yang disengaja, sedangkan pandangan yang tidak sengaja akan dimaafkan. Eit…tapi kalau sampai terjadi berkali-kali patut dipertanyakan juga tuh ;p Tips simpel dari kakak mentor di SMA, “pandangan tak sengaja yang pertama itu anugerah, tapi ketika menurutkan keinginan untuk pandangan kedua itu artinya musibah,” :)

2. Hadits Rasulullah saw:
عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِي أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي  (رواه مسلم).
Dari Jarir bin Abdillah ra berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang pandangan tiba-tiba (tanpa sengaja), lalu beliau memerintahkanku untuk memalingkannya. (HR. Muslim).
((يَا عَلِيُّ، لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ؟ فَإِنَّ لَكَ الأُوْلَى، وَلَيْسَتْ لَكَ الآخِرَةُ)) [رواه الترمذي وأبو داود وحسنه الألباني].
Wahai Ali, jangan kamu ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya, karena yang pertama itu boleh (dimaafkan) sedangkan yang berikutnya tidak. (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud dan di-hasan-kan oleh Al-Bani).
((الْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ، وَزِنَاهُمَا النَّظَرُ)) [متفق عليه].
Dua mata itu berzina, dan zinanya adalah memandang. (Muttafaq ‘alaih).

**copas dari dakwatuna.com, beberapa faktor yang menyebabkan seseorang tidak menahan pandangan.
1.Mengikuti hawa nafsu dan ajakan syaithan
2.Jahil (tidak tahu) terhadap akibat negatif mengumbar pandangan, di antaranya bahwa mengumbar pandangan itu penyebab utama zina.
3.Hanya mengandalkan dan mengingat ampunan Allah swt dan lupa terhadap ancaman siksa-Nya.
4.Melihat atau menyaksikan media yang porno atau berbau pornografi baik cetak, elektronik, atau internet.
5.Tidak menikah atau menunda pernikahan bagi mereka yang sebenarnya telah siap untuk menikah.
6.Sering berada di tempat-tempat bercampurbaurnya laki-laki dan perempuan, seperti pasar atau mall.
7.Merasakan kelezatan semu ketika memandang yang haram sebagai akibat dari lemahnya iman dan tidak hadirnya keagungan Allah swt dalam hatinya. Karena orang yang merasakan keagungan-Nya pasti akan bersedih kalau berbuat maksiat kepada-Nya.
8.Godaan dari lawan jenis berupa pakaian yang membuka aurat, ucapan, atau gerakan tubuh yang menarik perhatian.

Poin tiga…sangat tertohok membacanya, iya Allah Maha Pengampun lagi Penyayang, tapi alangkah ‘teganya’ kita dengan bersikap seakan lupa siksa-Nya juga amat pedih. Sebagai pengingat juga perlu kita ingat bahwa pandangan yang tidak dijaga dengan baik pada akhirnya hanya akan merugikan diri sendiri, jadi benarlah Allah memperingatkan kita darinya. Berikut beberapa dampak dari pandangan yang tidak terjaga :
1. Rusaknya hati.
Pandangan yang haram dapat mematikan hati seperti anak panah mematikan seseorang atau minimal melukainya.
Atau seperti percikan api yang membakar daun atau ranting kering lalu membesar dan membakar semuanya:
2. Terancam jatuh kepada zina.
Ibnul Qayyim berkata bahwa pandangan mata yang haram akan melahirkan lintasan pikiran, lintasan pikiran melahirkan ide, sedangkan ide memunculkan nafsu, lalu nafsu melahirkan kehendak, kemudian kehendak itu menguat hingga menjadi tekad yang kuat dan biasanya diwujudkan dalam amal perbuatan (zina). Penyair berkata:
فَكَلاَمٌ فَمَوْعِدٌ فَلِقَاءُ
نَظْرَةٌ فَابْتِسَامَةٌ فَسَلاَمٌ
Bermula dari pandangan, senyuman, lalu salam,..
Lantas bercakap-cakap, membuat janji, akhirnya bertemu.
3. Lupa ilmu.
4. Turunnya bala’
Amr bin Murrah berkata: “Aku pernah memandang seorang perempuan yang membuatku terpesona, kemudian mataku menjadi buta. Ku harap itu menjadi kafarat penghapus dosaku.”
5. Merusak sebagian amal.
Hudzaifah ra berkata: “Barangsiapa membayangkan bentuk tubuh perempuan di balik bajunya berarti ia telah membatalkan puasanya.”
6. Menambah lalai terhadap Allah swt dan hari akhirat.
7. Rendahnya mata yang memandang yang haram dalam pandangan syariat Islam.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: ((لَوِ اطَّلَعَ أَحَدٌ فِي بَيْتِكَ وَلَمْ تَأْذَنْ لَهُ، فَخَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ، مَا كَانَ عَلَيْكَ جُنَاحٌ)) (متفق عليه).
Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Jika seseorang melongok ke dalam rumahmu tanpa izinmu, lalu kau sambit dengan kerikil hingga buta matanya, tak ada dosa bagimu karenanya.” (Muttafaq ‘alaih).

Tulisan ini hanya sebagian dari artikel selengkapnya. Dari yang sebagian ini semoga bisa menjadi pengingat bagi diri sendiri khususnya, dan pada teman-teman sekalian… Di zaman sekarang godaan untuk memandang bagi kaum laki-laki sungguh besar, karena kebanyakan kaum wanita pun seakan berlomba ingin dipandang :( sebagai salah satu wanita, dimulai dari diri sendiri, dan dari sekarang, semoga tidak menjadi wanita yang memberatkan dosa pandangan pada laki-laki…

Kamis, 08 April 2010

Air Mata Wanita

Seringkali ada kerancuan mengenai menangis dan cengeng.. saya sendiri juga kadang bertanya-tanya kenapa saya mudah terharu dan menangis begini,he3 Kemarin saya menemukan artikel bagus ini dari www.dakwatuna.com, lalu saya teringat bahwa bertahun-tahun yang lalu saya juga pernah membaca artikel serupa ketika membongkar-bongkar dokumen di TK saya. Sedikit berbagi, inilah artikel dari dakwatuna.com tersebut :

Ibu, Mengapa Ibu Menangis?

Suatu ketika, ada seorang anak lelaki yang bertanya kepada ibunya. “Ibu,mengapa ibu menangis ?”. Ibunya menjawab, “Sebab aku wanita.” Saya tidak mengerti,” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tidak akan mengerti……” Kemudian, anak itu bertanya kepada ayahnya. “Ayah,mengapa ibu menangis ?”

Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan.” Hanya itu jawapan yang dapat diberikan oleh ayahnya. Lama kemudian, si anak itu menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis. Pada suatu malam, ia bermimpi dan mendapat petunjuk daripada Allah mengapa wanita mudah sekali menangis. Saat Allah menciptakan wanita, Dia membuat mereka menjadi sangat penting. Allah ciptakan bahunya,agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya. Walaupun, bahu itu cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tidur.
Allah berikan wanita kekuatan untuk melahirkan zuriat dari rahimnya. Dan sering kali pula menerima cerca daripada anaknya sendiri……Allah berikan ketabahan yang membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah di saat semua orang berputus asa.
Wanita, Allah berikan kesabaran, untuk merawat keluarganya walau letih,sakit, lelah dan tanpa berkeluh-kesah. Allah berikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya, dalam situasi apa pun. Biarpun anak-anaknya kerap melukai perasaan dan hatinya. Perasaan ini memberikan kehangatan kepada anak-anaknya yang ingin tidur. Sentuhan lembutnya memberi keselesaan dan ketenangan. Dia berikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa kegentiran dan menjadi pelindung baginya. Bukankah tulang rusuk suami yang melindungi setiap hati dan jantung wanita ?
Allah kurniakan kepadanya kebijaksanaan untuk membolehkan wanita menilai tentang peranan kepada suaminya. Seringkali pula kebijaksanaan itu menguji kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap saling melengkapi dan menyayangi. Dan akhirnya, Allah berikannya airmata agar dapat mencurahkan perasaannya…
Inilah yang khusus Allah berikan kepada wanita, agar dapat digunakan di mana ia inginkan.Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, airmata!” Ini airmata kehidupan.”

** Jadi air mata ini bukan kelemahan ya, khususnya bagi kaum wanita. Bahkan Allah sendiri menciptakannya sebagai keistimewaan kita. Menjadi wanita, berarti terpilih Allah dengan sangat istimewa untuk mengemban beragam peranan penting dalam hidup. Menjadi putri manis kecintaan keluarga bagi yang belum menikah, kemudian menikah dan melahirkan serta menjadi sosok penopang yang kukuh bagi suami, baru sebagian kecil dari peranan kita sebagai wanita. Berat memang sesungguhnya. Kompleks memang setiap hal yang telah dan akan mengisi pikiran kita. Dan untuk itulah Allah memberikan anugerah kepada wanita, anugerah air mata yang dapat kita pergunakan kapanpun kita membutuhkannya. Bukan cengeng, karena cengeng itu berarti sengaja menimbulkan air mata semata untuk pemenuhan ego pribadi. Air mata wanita itu agung ketika muncul sebagai bentuk aduan kepada Allah atas lemahnya diri, air mata itu suci ketika tidak sembarang dicurahkan untuk mengharap belas kasih dari selain Illahi, dan air mata itu indah..karena hanya kita wanita—sosok-sosok istimewa—yang dikaruniainya :)

eNbE : Bukan berarti laki-laki gak boleh nangis sih, bukan juga artinya laki-laki cengeng ketika menangis. Hanya saja secara spesial Allah mengaruniakan air mata sebagai pelipur lara wanita, sementara laki-laki Ia ciptakan dengan perasaan yang lebih kukuh. Meski begitu, setiap laki-laki yang kukuh tentu di sebaliknya ada seorang wanita hebat penginspirasi. Nah, artinya setara, keduanya pada akhirnya pun harus selalu saling membantu. Gak usah iri-irinan deh jadinya.. ^_^

Powered By Blogger