Jumat, 24 September 2010

Ibu dan Anggur Merah



Setahun yang lalu...
Suatu hari menjelang Idul Fitri, di pasar tradisional;
Ibu : "Mbah,niki pinten anggure?" (berapa harga anggurnya)
sambil memegang-megang seikat anggur merah yang digelar penjual buah langganan kami.
Penjual: (menyebutkan nominal harga yang bisa dikira sendiri lah untuk seikat anggur merah nan ranum,he33)
Ibu nampak tidak begitu terpengaruh, tetap memilih-milih anggur yang paling segar. Aku agak berpikir mendengar harga yang disebutkan. Bukan pada mahal atau murahnya, tetapi nilai uang sekian itu biasanya sudah lebih dari cukup untuk kami belikan jeruk, apel malang, atau pisang. Sejurus aku pun berkata lirih ke ibu,
Aku : "Mbok mboten usah mawon bu'e...tumbas liyane mawon.. (Gak usah aja bu, beli buah lainnya saja)
Ibu kemudian menatapku sejurus, lalu bergumam
Ibu : "Larang yo.." (mahal ya)
Aku : "Liyane mawon, kok rodo eman...anggur nggih ming ngoten-ngoten niko rasane (kok agak sayang, anggur rasanya begitu-begitu aja)
Tak kusangka ibu bergumam semakin lirih
Ibu : "Aku ki rung tau ngerti rasane..." (aku belum tahu rasanya anggur merah)

Blesss, ada rasa yang menyentil di ulu hatiku. Ternyata ibu ingin buah anggur merah itu karena selama 44 tahun usianya, belum pernah tahu rasanya. Sontak mataku terasa agak panas;
senilai berapapun bu'e, gak ada yang mahal kalau ibu yang menginginkannya..

Lalu aku menarik napas, dan berkata:
Aku : "Nggih bu'e, tumbas mawon... (iya bu, beli saja)
*berharap waktu itu suaraku tidak bergetar,hehehe*
Ibupun tersenyum, dan tentu saja..........MULAI MENAWAR, hiyaahh..teteeep, qiqiqi

Menjelang Idul Fitri tahun ini...
Ibu : "Anggure apik-apik iki.. (anggurnya bagus-bagus ini)
Aku tersenyum saja,lalu segera memilih anggur merah yang kelihatan paling segar..sementara ibu siap-siap menawar tentunya ;p

Selamat Hari Raya Idul Fitri,
semoga tempaan Ramadhan mengindahkan hati kita semua :)

Gambar diambil dari sini

8 komentar:

  1. Setelah mencicipi, ternyata ibu suka anggur merah ya, terbukti beli lagi ... :)

    *Jadi ingat di kulkas masih ada anggur merah.Mmm ... kayaknya harus dihabiskan nih ... *

    BalasHapus
  2. hehehe, iya bunda...dulunya suka jeruk sekarang lebih suka anggur ngendikonya :)

    *anggurnya buat ibu saya aja bun :D*

    BalasHapus
  3. harus anggur merah yg maniss..
    dan terkadang keinginan orang tua kita hanya hal yg simple lho.. beruntung anis tau apa kesukaan ibu saat ini.. :)

    BalasHapus
  4. kalo gitu anggur merah+anis ya, jadinya kan anggur merah maniss :D
    iya mom, semoga selalu bisa membahagiakan beliau :)

    BalasHapus
  5. Jadi ingat masa kecilku dulu... bagi kami anak-anak ndeso, anggur adalah buah yang mahal dan mewah. Waktu Oom-ku bawain anggur dari Bandung, kami masing-masing hanya dapat 2 biji, dan rasanya kuraaangg... hehe... saking seupritnya “jatah” para kerabat yang berkumpul saat itu. Seingatku dulu belum ada anggur merah yang ranum-ranum kayak di supermarket/penjual buah sekarang. Dulu masih anggur hitam biasa, tapi itupun jaraaanng banget bisa kami nikmati..

    Ibu masih suka anggur sampai sekarang? Kapan-kapan beliin Ibu, pasti beliau senang...

    BalasHapus
  6. anis juga gak seberapa sering makan anggur mb na, malahan paling sukanya sama pisang, murah dan kenyang :D
    kalo waktu kecil dulu masih banyak bauah yang kenampakannya mirip anggur gitu mb, tahu buah duwet kah? kalo makan buah itu banyak2 bisa jadi item lidahnya,he3

    masih suka mb, terus masih ada segepok lagi anggur merah di kulkas...nimbun ceritanya beliau, hee..

    BalasHapus
  7. Anggur memang masih tergolong mahal harganya, kecuali jika kita mau menanam sendiri, di halaman maupun di dalam pot, asyik dan sehat tentunya.
    Silahkan kunjungi www.thomasgrape.blogspot.com untuk informasi budidaya anggur semoga bermanfaat untuk semua.

    BalasHapus
  8. @THOMAS LIEM: Sudah berkunjung balik, menarik sekali informasinya. Terima kasih sudah berkunjung :)

    BalasHapus