Rabu, 15 Juni 2011

Laa Tahzan...bukan sebuah resensi buku ;)


Dalam kehidupan pasti akan ada yang berubah maupun yang bertambah,

Entah tambahan itu apakah suatu hal yang menyenangkan ataukah hal yang menyedihkan..

Banyak hal yang terjadi menjadi sebuah penyesalan bahkan awal dari alasan sebuah kesedihan yang tiada akhir..

Namun ketika kita tidak berusaha mencari alasan-alasan yang baik dari sebuah penderitaan yang kita alami…

Seakan-akan kesedihan yang kita alami menjadikan kita sebagai orang yang terburuk keadaanya…

Sudahkah kita belajar untuk melihat kebawah…


Ya benar..

Melihat kebawah…


Ternyata ada saja yang masih harus kita syukuri dari banyaknya kesedihan yang kita alami..

Terkadang sulit untuk kita mencari jawaban mengapa suatu musibah justru terjadi pada diri kita sendiri…

Kenapa bukan orang lain? Kenapa bukan orang yang bergembira itu? Kenapa bukan orang yang selalu bahagia itu…

Tapi tidakkah kita sadari bahwa kita hanya melihat dari sudut pandang mata kita. Bagaimana dengan Allah yang Maha Melihat dan Maha Bijaksana…


Tidak kita sadari semua, bahwa sudut pandang kita begitu sempit dan sangat sempit…

Allah melihat dari segala sudut yang tidak akan pernah dapat dijangkau oleh manusia…

Bukankah kitapun manusia.. milik Dia Yang Maha Kuasa,..

Berhakkah sebenarnya kita protes…?

Padahal kita adalah milik-Nya.

Sebuah pertanyaan yang tentu kita tahu jawabannya…

Berusahalah merenung dengan pertanyaan-pertanyaan itu.. Berusahalah untuk mencari jawaban positif dari pertanyaan-pertanyaan itu….


Suatu ketika, ada seorang melaporkan kepada Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Abu Darda’ radliallahu ‘anhu pernah mengatakan: “Fakir itu lebih aku cintai dari pada kaya dan sakit lebih aku sukai dari pada sehat.” Setelah mendengar laporan ini, Hasan mengatakan: “Semoga Allah mengampuni Abu Darda’, adapun yang benar, saya katakan:

من اتكل على حسن اختيار الله له لم يتمن غير الحالة التي اختار الله له

“Barangsiapa yang bersandar kepada pilihan terbaik yang Allah berikan untuknya, dia tidak akan berangan-angan selain keadaan yang pilihkan untuknya.” (Kanzul Ummal, Ali bin Hisamuddin al-Hindi)


Entahlah.. seakan-akan manusia terus berusaha melawan kodratnya… Hingga ia tenggelam dengan permasalahannya sendiri yang tiada habisnya.

Lalu lupakah kita tentang hakikat sebenarnya kita diciptakan?

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون

” Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (Q.S. Adzariyat :56)


Jadi ketika pena diangkat dan catatan takdir telah kering, haruskah kita protes?

Menjalani dengan penuh tawakal dan berusaha menunaikan kewajiban.. mungkin adalah obatnya… yah setidaknya dari pada berkubang dengan kesedihan yang kita masih belum tahu apakah hikmahnya…


بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

” tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati” (Q.S. Al-Baqarah:112)


Jika engkau seorang yang bertauhid, untuk apa bersedih, untuk apa mengeluh, untuk sesuatu yang sebenarnya akan engkau jalani…

Percayalah, bukankah Allah tidak akan membebani seseorang di luar kesanggupannya…

Mungkin pertanyaan ini adalah hal yang harus engkau renungi,…

Agar engkau yakin, semua pasti bisa engkau lewati dengan baik…

Karena percayalah selalu…..

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6)

” maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (Q.S. Al-insyirah: 5 – 6)


Jadi, untuk apa engkau bersedih lagi,,

Tersenyumlah untuk dunia yang akan, engkau jalani,…

Setidaknya… itulah satu cara untuk mengurangi kesedihanmu … yang insyaallah akan berlalu dan akan diselingi kebahagiaan kembali…

Karena percayalah Allah sayang padamu…..

(diambil utuh dari artikel www.muslimah.or.id berjudul Jangan Bersedih, dengan sedikit editing penulisan kata yang salah ketik *ampun, tetep dah ;p)


Satu hal yang saya sering 'heran', ketika dihadapkan masalah yang ukurannya huge...kok sepertinya Allah itu justru 'menggoda' sejauh mana kesanggupan kita (atau saya?) untuk tetap tersenyum ya?!

*beberapa tahun lalu, ketika sedang ingin cemberut karena dihindari seorang teman... eh kok ya bapak, ibuk dan sepupu-sepupu saya malah sedang main badminton dengan seru-serunya. Lah rugi dong saya kalau tetap bertahan dengan kecemberutan itu. Akhirnya saya menyerah, ikut main badminton sambil ketawa-ketawa :D

*Beberapa bulan yang lalu, ketika dihadapkan pada persimpangan hidup (cailah, bahasanya ;p) kok ya justru berbarengan dengan waktu berkumpulnya perserikatan keponakan saya. Huhuhu, jelas rugi besar saya kalau melewatkan kesempatan bergembira ria sebesar itu. Batal lagi deh sedihnya :D

*Beberapa minggu lalu, ketika saya harus 'tertatih-tatih' menyusuri koridor RS sendirian tanpa pengantar #lebay, ternyata saya masih dipingpong menuju kios fotokopi. Sedikit agak menghela napas saya membawa langkah ke sana, tapi bayarannya setimpal. Di sana saya mendapat teman-teman berbincang tentang serunya pertandingan bulutangkis semalam, dan diskusi singkat final Liga Champion!! :D
(ehm, saya dan pak satpam menjagokan el Barca; jelas kan saya layak bahagia kemudian ;p)

*dan beberapa hari belakangan, ketika secara 'mengejutkan' saya harus merombak arahan masa depan #semakinlebay, kok yaa...ternyata berbarengan dengan kedatangan 3 ponakan lucu; dan agenda-agenda kumpul dengan teman SMA yang jelas-jelas membuat perut saya kembung dengan riuhnya canda. Jadi bagaimana saya mau pasang muka sedih coba ?! ;)

Jadi ketika mendapatkan artikel di atas dalam inbox email saya, lengkap sudah saya kehabisan alasan untuk melarutkan diri dalam sebuah hal yang bernama kesedihan. Meski saya juga mengakui, saya juga bisa bersedih, bisa menangis, bisa juga panen duka dan rasa sakit...tapi tidak ada yang bisa menghalangi saya (atau kita ^_^) untuk tetap merasakan senyum;

karena seperti kalimat di akhir artikel itu, seperti apapun sedih itu--selama kita masih diberikan napas--berarti Allah masih sayaaang pada kita...

Jazakumullah ya, untuk semuanya..atas semuanya ^_^

Gambar dipinjam dari sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar