Selasa, 19 Juli 2011

Ketika Tiba Saat Bertukar Peran

Satu pengajaran ibuk saya yang lekat sedari kecil; sambut bapak ketika kondur plus bawain tasnya. Hal tersebut masih lumayan terjaga sampai sekarang, salah satunya karena setiap kali ’nampani’ tas bapak dalam kedudukan tangan pertama maka saya dapat menemukan adanya bonus-bonus mengenyangkan di dalamnya. Ketika bonusnya tipis, ramping, dan kecil alias amplop maka ibuk yang akan sigap mengambil alih :D Lain halnya jika bonus itu berupa buntelan snack atau lauk, maka saya lah yang menjadi pemilik sahnya ;p

Kebiasaan bapak membawakan makanan kecil itu bahkan tidak berubah hingga kini usia saya merambat menuju seperempat abad. Setiap kali ada rapat, kunjungan, atau gathering biasanya ada-ada saja bawaan beliau untuk saya. Ibuk pun demikian, setiap kali rewang di Wates atau menghadiri acara yang sekiranya ada arem-arem sepertinya ingatan beliau tak bisa lepas dari saya. Maklum saya arem-ania kelas wahid :D Bahkan semenjak saya masih kuliah di Solo, seringkali makanan tersebut harus duduk manis hingga beku di kulkas hanya demi menunggu saya pulang. Seringkali juga ibuk ngendiko yang intinya mengatakan bahwa berasa gak tega kalau mau makan makanan yang anaknyapun suka. Qiqiqi..iyaa, saya tahu kali ini ibuk agak lebay. Tapi tak apalah, saya terharu juga setiap mendengarnya ;)

Jujur dulunya saya agak sulit mengerti, kenapa sih harus repot begitu. Saya tahu jatah kardus yang dibawa pulang bapak adalah jatah makan siang beliau, setelah berjam-jam duduk pegal sambil berpikir dalam rapat nan panjang. Saya tahu seplastik kacang dan sepotong kue marmer itu kudapan siang bapak setelah harus bertegang ria mengawasi ujian sekolah. Tapi di atas segala lapar dan hasrat ngemil *hiyaah, emang saya hobi ngemil ;p* beliau memilih membungkusnya rapat dan dimasukkan dalam tas, untuk kemudian saya temukan sebagai harta karun lezat…

Saya juga pernah merasakan keheranan panjang. Saya tahu ibuk harus menyisakan tempat di tas kecilnya untuk tempat arem-arem kecintaan saya, membelitkan tisu agar minyaknya tak mengenai, hanya untuk melihat saya memakannya bahkan kadang hingga melupakan cuci tangan *upss..* Buat saya dulu, tindakan-tindakan itu remeh. Tak usahlah bapak menahan lapar berlama-lama, kenapa gak didahar saja nasinya?! Didahar saja kacang dan rotinya?! Toh lain waktu saya bisa beli sendiri, yang lebih enak mungkin. Tak perlu juga ibuk ingat saya di kondangan, saya sudah gede ini..sudah kondangan sendiri kadang walaupun entah bagaimana kok ya belum juga ganti dikondangi *ahaa, curcol ;p*

Hingga siang itu ada sekotak nasi mampir di kubikel saya di kantor. Ada syukuran ternyata. Dalam kotak cukup gede itu ada nasi dengan lauk enak dan lengkap, juga buah dan kue-kue camilan. Ckckck…benar-benar sedang ada yang bersyukur sepertinya ini ;) Tiba-tiba entah bagaimana ceritanya saya teringat ibuk. Saya ingat kue ini ibuk suka juga, saya ingat buah ini biasanya bapak kerso, saya ingat lauk ini biasanya kami makan beramai-ramai di rumah… Tiba-tiba saya ingin memakan kotak nasi ini di rumah saja, kembulan bertiga kalau perlu, he3. Tapi rasanya tetap gak mungkin membawa semuanya pulang karena teman-teman lain sudah bersama-sama mulai makan, rasanya kurang enak juga. Akhirnya saya lakukan persis dengan kebiasaan ibuk, ambil tisu dan mulai menggulung kue-kue agar minyaknya terjaga aman lalu menyisihkan tempat dalam ransel hitam saya. Iyap, kali itu gantian saya yang akan membawakan sedikit harta lezat untuk bapak dan ibuk :)

Inilah waktunya ternyata, ketika saya mulai mengerti dan menyadari bahwa merambati seperempat abad mestinya mengajarkan saya akan banyak hal. Termasuk tentang peran sebagai orang-lebih-tua, yang tak lagi semata kenyang di raga tetapi lebih mengenyangkan lagi ketika kenyang itu mencapai rasa. Ada peran yang rasanya bergeser, saya kini lebih tua..itu pasti, tapi akankah saya menjadi lebih dewasa..itu pilihan. Yang jelas saya langsung kenyang ketika melihat ibuk dan bapak melahap kue-kue itu sembari bercengkerama. Subhanallah..sekarang saya mengerti rasanya ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar