Jumat, 19 Agustus 2011

Takdir dan Pilihan


Pagi itu hape saya bernyanyi-nyanyi nyaring. Membuyarkan kegiatan saya di dapur; membuat minuman pagi..buat saya sendiri, hehehe. Sekali tekan, sebuah nama tak asing nampak dan membaca isi pesannya membuat saya tertegun, “Karena takdir ini tidak lagi menawarkan pilihan Dek…”. Saya terdiam, tak begitu mengerti harus menjawab apa, membalas bagaimana, jari tangan pun terasa kaku—sebanding dengan lidah yang kelu jika harus merangkai rinai kata.

Pilihan..pilihan..pilihan. Kenapa ada orang yang merasa bahwa takdirnya tidak memberikan pilihan, sekaligus orang-orang yang merasa kebingungan atas banyaknya pilihan?! Tapi jika direnungkan lagi, sungguhkah takdir tidak memberikan pilihan?


Takdir dan pilihan #edisi satu

Di sebuah ruang berukuran sekitar 3x2 meter persegi berdinding putih, dengan sosok ramping berkacamata dan jas putih; dokter!! :D

Sore itu saya yang masih seusia SD diperiksa dengan seksama akibat demam dan batuk pilek, penyakit rutin.

“Biar cepet sembuhnya ini harus disuntik ya,” kata pak dokter.

Saya menggeleng kuat-kuat, selama ada pilihan maka jarum suntik silakan jauh-jauh dari saya.

“Tapi kalau disuntik nanti sembuhnya lebih cepat daripada kalau minum obat,” dokter nan ramah itu berusaha menjelaskan.

Bagi saya kalimat itu menjadi penolong, ahaa..berarti saya masih punya pilihan dalam menghadapi takdir sakit ini kan. Antara jarum suntik dan obat oral :p

(selanjutnya cukup jelas apa pilihan saya :D)

Takdir dan pilihan #edisi dua

Sambungan telepon senja itu bergemerisik. Selain mungkin karena kualitas sinyal, sepertinya ada ‘bonus’ isakan di ujung sana :(

“Kenapa kamu masih juga tertawa.. Kenapa masih juga begitu tenang bercerita..”, tuntutnya.

Si Gadis Muda tersenyum di balik genggam hapenya, “Tak apa, memang harus seperti ini kan.”

“Tapi pasti hatimu sakit, pasti kamu pun sedih...kenapa masih juga tertawa?!”

Kembali si Gadis Muda tersenyum, “Karena memang inilah takdirnya.. Bisa saja kalau akan terus-menerus kutangisi, marah, kecewa. Tapi apakah itu mengubah keadaan? Tidak. Jadi kenapa tidak berusaha ikhlas dan tetap tersenyum saja?!”

Sesaat senyap di ujung telepon satunya. Seandainya jemari sanggup terulur, ingin rasanya si Gadis Muda menyeka hasil isak yang terdengar lemah itu.

(hmm..makna kedua dari pilihan dalam takdir)


Pilihan..pilihan..pilihan. Ternyata keadaan telah mengajari saya bahwa dalam takdir selalu ada pilihan. Hanya terkadang jenisnya adalah dua hal yang perlu dilihat dari sudut pandang berbeda. Terkadang takdir itu sendiri datang sebagai sebuah bentuk pilihan, yang perlu kita cermati dan kita putuskan. Mana yang lebih baik, mana yang lebih ma’ruf. Namun terkadang juga takdir datang serupa ketetapan yang tak tertawar. Namun apa itu berarti kita tidak punya pilihan?! Rasanya bukan. Hanya saja pilihannya menjadi berubah sisi. Pilihannya terletak pada sikap kita akan takdir tersebut…

Jeda sekian menit dari sms yang saya terima, seiring kopi krim saya yang mendingin, jemari mulai mengetik mantap pada mini keyboard putih saya...
"Ketika takdir yang dihadapi seakan tidak menawarkan pilihan, maka pilihan sebenarnya ada di sisi lain. Yaitu pada penyikapan kita atas takdir tersebut; antara berusaha mengingkari atau menghadapi dengan selaksa keikhlasan. Jadi selalu ada pilihan kan?! :) "

*Teruntuk separuh hati saya nan cantik, alhamdulillah tawa itu terdengar kembali :)
** Gambar dipinjam dari sini

4 komentar:

  1. assalamu'alaikum,,, mb Nisa aku berkunjung ke blog mu lho mb ^^, ditunggu kunjungan baliknya. wahhhh ternyata seneng nulis yaaa mb ^^

    BalasHapus
  2. Wa'alaikumsalam warahmatullah adeek ;)
    Hihi..udah liat punya dek ulfa juga kok, cuma belum ninggal jejak. Penanya baru ngadat :D
    Begitulah, meski masih angin-anginan.. hehehe

    BalasHapus
  3. Salam senggol mbak Anis... boleh to nyenggol??? hihihi... Mbak, gimana pendapat mbak Anis dg bagian akhir dari Hadits Arbain nomer 4 HR. Bukhari Muslim?
    ".... sesungguhnya ada di antara kalian yang mengamalkan amalan Ahli Jannah hingga tiada jarak antara dirinya dengan Jannah kecuali sehasta saja, namun takdir Allah telah mendahuluinya, sehingga ia mengamalkan amalan Ahli Naar lalu ia pun masuk Naar. Dan sesungguhnya ada di antara kalian yang mengamalkan amalan Ahli Naar hingga tiada jarak antara dirinya dengan Naar kecuali sehasta saja, namun takdir Allah telah mendahuluinya, sehingga ia mengamalkan amalan Ahli Jannah lalu ia pun masuk Jannah."

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah yang boleh nyenggol istrinya aja deh mas :p
      Hehe, belum pernah tau hadis itu mas.
      Dilihat bahasanya juga sepertinya gak bisa ditafsirkan tanpa ilmu. Naaa, ilmunya itu yang belum sampai :D

      Hapus