Jumat, 23 September 2011

Jodoh dan Pernikahan I: Khusnudzan Saja :)


Masa perkuliahan tentunya menyisipkan berbagai hal dalam hidup kita. Bagi saya, itu termasuk dengan adanya banyak sahabat yang hadir; yang menjejakkan berbagai rupa warna di hati dan hari saya. Dan karena kesemuanya yang merupakan karib adalah wanita, yang otomatis usianya adalah kurang lebih sama, maka bahasan terhangat kami juga cenderung sama..tak lain tak bukan adalah tentang jodoh :D

Beragam liku kami ketika menghadapi satu kata sakti itu. Ada yang lancar jaya begitu lulus tak lama kemudian menikah, menyadari bahwa mereka amatlah saling melengkapi, dan sekarang sedang menantikan kelahiran buah hati—semoga lancar ya sobat :)—Ada yang perlu sekian saat menyadari bahwa sudah waktunya mereka menikah saja, bahwa insyaAllah yang mereka punya akan cukup adanya, dan voilaa..menikahlah mereka—kabar calon ponakan ditunggu ya sobat ;)—Ada juga yang masih menggigiti es krim(*atau lazimnya saja; jari, he3)sebab yang dinanti belum kunjung tiba, atau tiba tapi segera berangkat lagi… (emangnya angkot :D).

Subhanallah saya termasuk kategori belakangan :D Entah bagaimana tapi rasanya saya mulai bisa menikmati likunya proses ini dengan cukup tenang, bahkan terkadang tersenyum simpul dengan kisah kawan yang lain, he3, dasarr. Ada satu waktu saya berbagi cerita dengan seorang sahabat, hingga dari saya terlontar kata-kata bahwa mungkin kitalah yang dipandang Allah belum siap bertemu jodoh. Esok paginya, uthuk-uthuk sahabat saya itu sms…untuk berucap resah bahwa itu artinya dia pun masih cukup buruk. Duuh…saya terhenyak, astaghfirullah rasanya saya salah ucap :( Akhirnya saya renewing kalimat saya. Saya bilang itu hanya salah satu dugaan lah, sebenarnya maksud Allah bisa apapun. Tapi bukankah akan terasa jauh lebih nyaman jika kita berkhusnudzan saja sama Allah…dan menumbuhkan alasan yang akan mendorong sikap positif kita, misalnya dengan senantiasa memperbaiki diri?! :)

Lain kesempatan, lain sahabat, lain pula kisahnya. Saya pun paham, secara logika manusia tampaknya akan lebih baik dia bersuami sekarang. Bukan apa-apa, hanya saja seorang suami insyaAllah akan lebih bisa mendampingi dan menentramkan hati…24 jam sehari, 7 hari seminggu (*semacam iklan itu lah.. :p) Tapi apa nyatanya, Allah tetap belum juga menghadirkan jodohnya. Kenapa ya? Tanyanya. *pegang dagu* Saya pun berpikir keras. Ahaa, lalu saya coba bilang…iya rasanya memang akan indah kalau di saat kita merasa lemah seperti ini kita punya suami yang akan jadi sandaran. Tapiii…mungkin Allah tahu jika suami itu hadir sekarang, kita justru hanya akan ‘rajin’ bersandar, berharap penguatan. Makaa, mungkin Allah bermaksud menjadikan kita lebih kuat dulu, kuat bertahan dan tegak sendiri dulu, agar ketika suami yang kita nanti itu hadir maka kita tidak kemudian semata selalu bersandar padanya. Sebab dia pun adalah manusia, yang suatu waktu bisa lemah juga… Alhamdulillah efeknya lumayan, saya pun jadi tenang dengan kalimat saya sendiri itu, he3.

Rasanya saya kok santai sekali gitu ya. Yaa entah juga sih kenapa, kalau saya bilang karena percaya jodoh saya pasti sudah ada rasanya klise ya. Pada kenyataannya kesadaran seperti itu terkadang kurang manjur juga untuk mengusir galau *akhirnya terpaksa pakai kata ini juga, hehehe* Sampai kemarin saya mendapat inspirasi sederhana, ketika sedang menumpang bus bersama sahabat saya—ke akad nikah sahabat saya lainnya, tepat sekali :D—inilah percakapan ‘aneh’ kami:
Saya(S) : Eh aku sekarang mikirnya gini…
Sahabat Saya (SS) : Apa?
S : Doa apa yang mesti kita baca setelah salat, atau bahkan setiap saat?!
SS : Doa untuk kedua orang tua kan?
S : Yep, kita minta Allah menjaga orang tua kita..menyayangi keduanya.
SS : Terus?
S : Ya inilah, Allah sedang mengabulkan doa kita itu. Ya Allah menjaga bapak ibuk lewat kita ini, termasuk dengan cara belum menghadirkan jodoh kita sekarang, hehehe
SS : Hehehe, iya juga ya. Doa kita emang selalu terjawab, Cuma jawabannya saja yang kadang mesti diresapi lagi :)
Dan sepanjang sisa perjalanan itu, kegalauan kami menipis *halahh* alhamdulillah…

Selang beberapa hari, saya bertukar kabar dengan sahabat yang telah menikah, ada 2 orang; pertanyaan standar…Gimana kabarnya sekarang setelah nikah? Jawabannya ternyata kompak sama, Alhamdulillah luar biasa!
Haahh..terima kasih, terima kasih. Akhirnya sekarang saya galau lagi :D

(insyaAllah, bersambung…)


gambar dipinjam dari sini

4 komentar:

  1. Hihihi, iya wiwiennnnn! :D

    BalasHapus
  2. ditunggu lanjutannya... blognya bagus, ukhti. Tulisan2nya juga... :-)
    saling berbagi hikmah ya

    BalasHapus
  3. wah wah waaahh... tuenang aja.
    insyaalloh galau itu akan segerA hilang.

    sing semangat to mbak Yu...! ^^
    Gusti Alloh mesti paring

    BalasHapus