Kamis, 15 April 2010

MEMBANGUN KELUARGA CERDAS DUNIA AKHIRAT

“anak-anak zaman sekarang menghadapi lingkungan&tantangan yang semakin sulit. Mereka membutuhkan orangtua-orangtua pembelajar yang senantiasa mau membuka diri untuk menjadi semakin arif dan mencerdaskan” (Dwiyono Iriyanto, Parents Effectivness Consoultant)

Kalimat pembuka dari sebuah buku bersampul merah yang disodorkan bapak siang itu langsung menarik perhatianku. Biar belum jadi Ummi—he3—justru artinya aku masih punya waktu untuk belajar dan belajar lebih banyak, eit tapi bukan berarti yang udah jadi Ummi terus belajarnya udahan lho yaa :) Judul buku tersebut adalah Membangun Keluarga Cerdas Dunia Akherat.

Buku ini terbagi menjadi tiga bab :

Bab pertama, Anak dan Dunianya. “anak-anak kita sudah ditakdirkan dan dibekali keunikan masing-masing oleh Sang Pencipta, Allah SWT. Kita tidak perlu mati-matian membuat anak kita menjadi bintang kelas bila kemampuannya justru menjadi bintang panggung atau bintang lapangan. Beri kesempatan mereka untuk memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Mereka memiliki hak untuk menjadi ‘juara’ dengan pilihannya sendiri”

Hohoho..mumpung belum punya anak nih, ingat baik-baik untuk tidak memaksakan kehendak atas anak-anak kita (nantinya :) ) Ciptakan rumah menjadi rumah juara, yang akan menjadi lahan persemaian untuk jiwa-jiwa bersih mereka. Jangan lupa, seorang anak akan tumbuh sebagaimana ia ditumbuhkan. Semai jiwa mereka dengan kasih sayang, perhatian, dan pengertian yang cukup. Bimbing anak untuk belajar mengenali potensi positif yang dimiliki dan dukung ia untuk mengembangkannya. Tak masalah bila dalam perjalanannya ia akan pernah melakukan kesalahan. Jangan buru-buru dimarahi deh..justru dampingi ia untuk belajar dari kesalahan yang dilakukan agar ia mengerti dan tidak mengulang kesalahan yang sama nantinya. Jangan ‘keki’ juga ketika ia nantinya menemukan jalan kebenaran dengan caranya sendiri, kan dia sedang belajar :)

Bab kedua, Wajah-Wajah Kita. “diakui dan diterima sebagai orangtua bijak di hadapan anak-anak, tentu menjadi salah satu dambaan banyak orang tua. Namun yang sering terjadi, kita jutru menjadi salah satu dari orangtua ekstrem: menjadi orangtua otoriter atau orangtua permisif. Otoritas dan kendali ada sepenuhnya di tangan kita, atau kita serahkan sepenuhnya pada anak. Padahal menjadi orang tua otoritatif (mengedepankan kebiasaan dialog) memiliki peluang lebih besar untuk menjadikan anak-anak kita lebih percaya diri, kooperatif, dan mandiri”
Memaknai kebijakan menjadi orangtua dilakukan dengan tiga cara berikut, 1)identik dengan adanya kesediaan untuk membesarkan, mendampingi, dan mendidik anak dengan kasih sayang dan kekuatan yang berimbang, 2)melindungi anak secara wajar agar ia tetap memiliki ruang untuk berkembang dan mandiri, 3)memahami bahwa kekuatan tidak sama dengan kekerasan. Jangan sampai kita menjadi orangtua yang arogan, yang bisa terjadi karena, 1) kita merasa jauh lebih berpengalaman daripada anak-anak kita—iya sih..tapi anak-anak pun harus kita hargai lho…—yang ke 2) menganggap pikiran dan perasaan anak terlalu dangkal sehingga sering kita anggap sepele—ini sangat gaswat, never never do this:( Membanding-bandingkan anak serta memberikan label negatif juga tidak seyogyanya kita lakukan. Yang pertama bisa jadi membuat dia rendah diri walaupun kita sering memberi pembenaran dengan menganggapnya sebagai motivasi, dan yang kedua bisa jadi label itu yang akan tertanam di benaknya dan membuat label ‘guyonan’ kita menjadi kenyataan baginya.

Bab ketiga, Anugerah yang Tak Terperi. “memiliki anak yang sholeh, cerdas, dan sehat merupakan sebuah anugerah tak terperi. Anak yang sholeh menjadi jaminan bagi orangtua untuk menjadikan amalannya tidak terputus, meski orangtua telah berpulang ke haribaan Allah SWT. Anak yang cerdas menjadi kebanggaan keluarga, karena dengan kreativitas dan inovasinya diharapkan mampu memberi warna bagi kehidupan yang lebih baik. Sedang anak yang sehat selalu menentramkan hati orangtua, karena dengan keceriaan dan kebugarannya mampu menjauhkan para orangtua dari rasa cemas”.
Setiap anak sesungguhnya dilahirkan sebagai anak yang cerdas. Di sini orangtua jangan sampai terpaku pada pemahaman lama akan makna cerdas. Buka wawasan yuk tentang Multiple Intelligent Theory yang dicetuskan Howard Gardner di tahun 80’an—iniii skripsiiikuuu…yes2..ada manfaat komprehensifnya ternyata,he3—yang menyatakan bahwa kecerdasan itu punya beragam aspek. Ada aspek fisik yang dikenal sebagai kecerdasan kinestetik, ada kecerdasan logis matematis yang meliputi kemampuan berpikir logis, ada aspek kecerdasan emosi ke dalam diri atau kecerdasan intrapersonal dan ke luar diri atau kecerdasan interpersonal, bahkan ada juga kecerdasan spiritual yang merupakan kesanggupan seseorang untuk memaknai hidup dan kehidupan pada tingkat yang semakin tinggi. Jadi jangan sembarangan menganggap anak kita nggak cerdas hanya karena matematikanya hanya dapat enam,he3. Pasti ada kok kecerdasan yang dimiliki anak kita, pintar-pintarnya kita sebagai orangtua saja untuk menggali dan mengoptimalkannya.

Hhmmm…bukunya cukup ringkas tapi Alhamdulillah aku belajar banyak. Untuk teman-teman yang sudah atau hendak dikaruniai putera selamat mengamalkan ya, semoga menjadi tambahan bekal ilmu yang bermanfaat dalam membentuk generasi penerus yang sholeh dan berkualitas. InsyaAllah, amiin :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar