Kamis, 15 April 2010

Sampah Kulit Kacang

Sepulang menunaikan ibadah haji tentunya ada banyak hal yang bisa dibagikan, begitu juga dengan mbak ika—mbak sepupuku—yang Alhamdulillah mendapat kesempatan menunaikan rukun Islam ke-5 itu. Sebagai adhek yang manis—qiqiqi,fitnahkah ini?!—tentunya ada setumpuk pembagian yang kuperoleh, mulai dari gelang, coklat yang muanise pol, sampai seikat Rumput Fatimah yang sesuai perjanjian akan di’anyari’ oleh siapapun dari kami yang melahirkan lebih dulu,he3. Nah, berhubung yang berwujud barang sangat tidak memungkinkan dibagi lewat FB, jadi pembagian yang berwujud hikmah aja yang akan kushare di sini :)

_jama’ah haji dan sebuah kulit kacang_

Alkisah salah seorang jama’ah dari kloter 85, kloternya mbak ika, sedang dalam perjalanan menuju Masjidil Haram. Di perjalanan ia melihat sebuah kulit kacang yang tergeletak. Terpikir olehnya,”Ah kan bukan aku yang buang itu, biar saja lah..” dan ia pun melanjutkan perjalanan menuju masjid. Memasuki masjid ia bersiap untuk melakukan sholat, tak tampak ada sampah apapun di hadapannya. Namun alangkah terkejutnya ketika seusai sujud ia mendapati sebuah kulit kacang di hadapannya! Ia pun langsung beristighfar berulangkali, memohon ampun atas abainya ia dengan sebuah sampah kulit kacang yang ia lihat di jalan.

Subhanallah.. tentunya ada hikmah yang tampak jelas dari kisah ini yaa.. bahkan hikmahnya selaras sekali dengan isu terhangat dunia saat ini; Global Warming, he3. Kepada jama’ah tersebut khususnya dan kepada kita semua yang mengetahui kisah ini Allah hendak mengingatkan alangkah kurang pedulinya kita sekarang ini dengan lingkungan. Sebuah kulit kacang saja ‘dikembalikan’ begitu cepat oleh Allah, bayangkan kalau di sini bahkan kita pernah dengan santainya membuang sekresek besar kulit kacang, Astaghfirullah.. berangkat dari sekelumit kisah di atas, yuk kita lebih menjaga lingkungan teman-teman, terutama dalam hal membuang sampah. Jangan sampai memanfaatkan laci sebagai tempat sampah ya, jorok itu…trus kalau habis maem permen jangan buang bungkusnya sembarangan, taruh saku lah kalau belum ketemu tempat sampah, dan juga jangan lupa untuk memisahkan sampah organik dengan yang non organik. Contohnya kalau di rumah jangan membuang limbah dapur dengan dibungkus plastik, atau ketika membuat mi rebus jangan lupa memisahkan sampah plastik dari bungkusnya dengan sampah tangkai-tangkai sayuran yang tidak kita tambahkan dalam mi tadi.

Jangan pernah menyepelekan hal-hal yang kecil ya teman-teman.. kecermatan kita terhadap hal kecil justru akan menggambarkan serapi apa pribadi kita. Plus kalau nanti kita berkesempatan menunaikan haji kita akan lebih hati-hati. Jangan sampai abai dengan hal-hal yang kecil. Apa nggak ngeri kalau bangkit dari sujud dan di hadapan kita ada jejeran botol air mineral, emangnya kita mau bowling ;) semoga bermanfaat…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar