Kamis, 15 April 2010

Sajak Rindu Tiga Makna

Sajak Rindu bag. 1

Menatapnya saat sepasang mata itu tak menatapku,
Kadang kurasa seluruh sendi rapuh,
Dan tanpa tercegah butiran bening seakan berlomba meluruh…

Aku di sini tapi hati terasa begitu berjarak jauh,
Dalam sisa-sisa sepi ingin kugapaikan tanganku meraihnya tapi selalu saja masih sama,
ia ada di sisi masa yang teramat sulit kusentuh..

sesak masa yang bergerak, semakin jauh kusisakan bayangnya di belakang
aku ingin terbang
sungguh aku ingin,
tapi masih saja tatapnya siratkan kata yang tak sanggup kuurai jadi makna
tahukah ia sayapku belum sanggup taklukkan angin?
Tahukah ia belum banyak yang kupahami tentang dunia yang teramat dingin?
Ataukah ia hanya inginkan aku lebih lama…
Entah,
Belum satupun makna sanggup kuungkap

Lelah kadang, menunggu samar yang tak kunjung terang
Sungguh aku ingin terbang…
Tapi kini tatapnya seakan berkata,
Tinggallah sesaat lagi, cinta
Karena mungkin membelaimu tak ‘kan bisa kulakukan lebih lama...

Akupun terhenyak,
Seberapa lelahpun,
Aku tahu, aku masih harus menunggu,
Selalu hanya untukmu, Ibu…

Sajak Rindu bag. 2

Senyap senyum yang tercipta tiap kali mengingatnya,
Setiap kecupan lembut di dahi untuk pengantar tidurku,
Betapa aku selalu menginginkan selamanya seindah itu…

Tiada terasa waktu mengantarkan kami begitu cepat,
Dan kini kudapatkan aku tlah tegak di sisinya
Bukan lagi mungil di dalam buaiannya,
Bapak,
Jauh sudah langkah tertempuh
Tapi masih saja senyummu yang jadi tempatku kembali,
Dalam kata perlahan yang singkirkan segala beban
Bapak,
betapa perlahan pula kebahagiaan yang mampu kuulurkan padamu
betapa sedikit yang mampu kupersembahkan sebagai wujud cintaku,
sedangkan setiap inchi sisa buaimu seakan jadi prasasti pilu,
belum seberapa baktiku, bapak…

waktu masih memberiku kesempatan beranjak
tapi aku mengerti,
masih ingin engkau di sisiku,
karena selalu kau percaya,
aku mampu lebih dari yang mereka tahu.

Sajak Rindu bag. 3

bukan,
bukan dari rahimmu aku terlahir
tapi tulusmu yang kurasa membuatku berat berpaling
dan merasakan rindu yang tak tahu kemana mesti dibagi

belum pernah tahu rasanya belaimu,
tapi rona kulit yang pernah kusentuh itu telah menggambarkan jauh lebih banyak,
dan untai tawa yang pernah kau hadirkan,
adalah anugerah yang tak pernah kusangka..

aku mengerti belumlah kita saling memiliki,
tapi kuharap Ia kan izinkanku menyayangimu semampuku,
tak kuharap balas atas segala rasaku,
sungguh..
aku hanya ingin melihatmu bahagia,
sebagaimana bahagia bagi pemilik rahim yang aku terlahir melaluinya.


**mellow ya…he3 hanya sedang mencoba menggambarkan tiga cinta dalam hidupku, yang pada mereka aku bahkan tak tahu bagaimana harus berterima kasih. Untuk segala rasa, dan kata yang mendewasakan. Semoga Allah memberi sebaik-baik balasan… :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar