Rabu, 12 Mei 2010

Luka Siku dan Luka Hati

Beberapa hari belakangan merasa agak ‘tersiksa’ di kantor. Bentar-bentar lengan kiri rasanya gatel banget, dan ingatlah aku akan peristiwa di Rabu pagi itu, got an accident pas berangkat kerja :(

Jadi inget untuk sedikit cerita, sungguh aku gak lagi ngelamun di jalan, pun ketika lampu di perempatan dekat Prambanan menyala merah. Berhentilah aku. Tiingg..beberapa saat lampu menyala hijau dan aku baru mulai tancap gas saat tiba-tiba motor di depanku berbelok ke kanan. Astaghfirullah…rem mendadak tetap gak bisa menahan laju Kang Supri hingga ban depan menyenggol plat motor yang ujug-ujug belok tadi. Bisa ditebak, akupun jatuh dengan mulus di jalan :(

Masih Alhamdulillah gak ada luka apapun yang keliatan dari luar, Cuma tangan terasa sedikit kaku. Alhamdulillah juga Mas&Bapak yang belok ndadak tadi gak ikut jatuh. Dan Alhamdulillah lagi ada polisi yang jaga pagi itu jadi gak terlunta-lunta di jalan :D

*) hal yang kemudian kulakukan adalah menarik dan menghembuskan napas beberapa kali buat ngilangin deg-degan. Setelah cukup tenang dan udah ada di pos polisi aku baru melihat si Mas&Bapak tadi dengan lebih jelas. Si Mas paling gak jauh usianya dari aku, dan si Bapak dah keliatan cukup sepuh. Lebih trenyuh lagi ketika si Bapak beberapa kali ngendiko,”Damai mawon nggih mbak..damai mawon..,” dengan wajah yang tampak tegang. Alangkah takut sepertinya si Bapak kalau aku gak terima dan sampai nuntut, hmm… “Mboten lah pak, nggih damai mawon..mboten nopo-nopo kok,” jawabku, sambil tersenyum malah. Rasanya justru trenyuh melihat beliau yang jadi panik begitu. Anggap saja aku juga lah yang kurang hati-hati, meski aku yakin memang tadinya tu motor gak nyalain lampu sein sebelum belok ;p Semakin trenyuh ketika kami sempat ngobrol sedikit dan beliau bilang sepertinya akan gak jadi masuk kerja karena sudah terlambat sekali.. Ya Allah, apa aku masih akan menuntut ketika jelas-jelas keadaanku gak masalah. Aku masih bisa telepon kantor dan ngabarin bakal telat—jadi tolong lobiin pak satpam ya mbak novi yaa :D—sementara si Bapak kemungkinan besar jadi tidak bekerja hari ini. Bagaimana kalau aku yang di posisi beliau?? Alangkah sedihnya…

*) saat sedikit ngobrol itulah aku baru merasa kalau siku kiriku perih, setelah mencari tempat aman untuk menggulung lengan baju..baru aku tahu kalau ternyata siku kiriku lecet, padahal gak ada bekas carut sama sekali di kain baju maupun jaketnya. Luka itu kemudian sedikit kuobati tanpa aku sadar ternyata luka di siku adalah luka yang akan cukup lama sembuh :D
Singkat cerita aku boleh pergi akhirnya, sementara si Mas&Bapak masih tertahan di sana. Dalam hati aku Cuma bisa berdoa moga mereka berdua gak apa-apa ya Allah…

*) mampir sebentar ke bengkel buat ngecekin kang Supriku. Footstep kiri melesak sama spion kiri kendur…Alhamdulillah beres dengan dua ribu,he33.

Dipikir-pikir aku malah dapat beberapa pelajaran dengan kejadian itu,

_1_ memaafkan itu selalu lebih indah ya

aku yakin mereka gak akan balik sewot semisal aku jadi marah..soalnya kan porsi khilaf mereka bisa dibilang lebih besar. Tapi apa sih faedahnya buat aku?! Apa marahku akan menunda waktu sehingga aku jadi gak telat kerja? Apa marahku akan mengulang waktu sehingga kejadian itu batal terjadi? Apa marahku akan membuat si Bapak gak jadi telat kerja juga? Overall,jawabannya Tidak. Justru dengan tersenyum dan mengikhlaskan semua kejadian, pandangan menjadi lebih terang. Aku jadi tahu aku harus tetap lebih hati-hati. Aku jadi ‘dipaksa’ menyempatkan diri ke bengkel hingga kesehatan kang supri bisa langsung check,qiqiqi.. dan istimewanya aku jadi dapat senyum-senyum tulus pagi itu. Subhanallah malah seneng rasanya, termasuk senyum satpam kantor yang dengan senang hati mempersilakan aku masuk gerbang, arigato pak :D

_2_setiap luka pasti akan sembuh

Sounds gak nyambungkah?! Hehehe… luka di siku yang sempat kuabaikan itu ternyata buntutnya cukup panjang, dan cukup perih. Posisi di siku yang sering ketarik-tarik itu membuat luka jadi agak lama sembuh :( Belum lagi yang mulai terasa sangat gatal, padahal kalau digaruk bisa jadi makin lama sembuhnya.

Kejadian itu ternyata justru aplikatif ke peristiwa yang sedang kualami. Sedang sedih ceritanya sodara-sodara ;p Luka siku gak begitu jauh bedanya dengan luka di bagian tubuh yang lain, termasuk hati. Akan sangat perih juga sepertinya karena hati pun merupakan suatu bagian yang aktif ‘bergerak’ dan merasa. Tapi sebagaimana luka siku, luka hati pun suatu saat juga akan sembuh..asalkan kita sanggup bersabar selama ‘kulit hati’ itu sedang berproses menyembuhkan diri. Sebagaimana luka siku menjelang sembuh yang justru terasa begitu gatal sementara garukan akan membuatnya makin lama sembuh, luka hati menjelang sembuh juga akan terasa ‘sangat gatal’ hingga tanpa sadar kita justru ‘menggaruknya’ dengan malah mengulang-ulang ingatan atas apa yang telah membuat kita sedih. Akibatnya luka hati bisa makin besar, dan makin lama sembuh. Cobalah kita sedikit bersabar sebagaimana kesabaran kita untuk tidak menggaruk siku, tak perlu lah mengingat apa yang membuat kita sedih, bantu hati kita menyembuhkan dirinya. Ya, luka itu bisa jadi sangat-sangat gatal, tapi semakin ingin kita menggaruk ingatlah bahwa setiap garukan akan memperlama kesembuhan kita. Maukah kita tersiksa lebih lama lagi?tentu saja tidak…

Dan aku pun berusah bersabar untuk tidak menggaruk luka siku ini, walo kadang sampai terasa agak mengganggu, seperti saat ini. Aku juga berusaha tidak menggaruk hatiku lagi, biar kalaulah ada luka di situ, luka itu juga akan segera sembuh :)

(**) terima kasih ya Allah, kejadian Rabu pagi itu justru menunjukkan hamba atas indahnya memaafkan..dan yang juga begitu penting, menunjukkan kepada hamba indahnya bersabar untuk ‘secuil luka’ ini. Semoga hamba dapat istiqomah untuk belajar tidak ‘menggaruk’nya setiap saat, hingga benar-benar Engkau yang menyembuhkan, amiin…^_^v

Tidak ada komentar:

Posting Komentar