Rabu, 12 Mei 2010

Tiga Kasih Sayang

Kalau kuhitung, sudah dua kali aku naik kereta Prameks..dan kedua perjalanan itu selalu membawa kenangan berarti.

**) sekali waktu, berangkat bersama my lovely dear Anisa dan pulang sendirian. Berangkat masih dengan ceria dan ngobrol ngalor ngidul tapi pulang dalam sepi sambil menyusun notes di hape :)

Saat itu kereta Prameks belum seramai sekarang, walaupun sedang weekend. Lintasan stasiun demi stasiun juga belum begitu menggelarkan cerita. Bahkan memandang hamparan hijau sawah dan perbukitan yang teruntai lewat jendela cukup menyita perhatian kala itu. Berangkat dalam keramaian, menuju harapan kedamaian di pemandangan pantai, kemudian pulang bersama desau sepi. Begitulah…

**) kali kedua, weekend kemarin, berangkat sendirian dan pulang juga sendirian. Berangkat dengan penuh rasa lelah setelah mondar-mandir rumah-Klaten 2x plus rumah-Jogja, menjelang perhentian aku justru ketiduran, he33. Alhamdulillah tujuanku mentok, jadi gak bakal kebablasan. Berangkat dengan pikiran yang begitu penat dan penuh, menguatkan diri dalam bisikan agar ikhlas dan tabah, lagi-lagi menuju harapan kedamaian di pemandangan sawah serta hamparan Azzola pinata, untuk kemudian pulang dengan masih membawa pertanyaan-pertanyaan di manakah kasih sayang itu sebenarnya…

Rangkaian bisu gerbong Prameks ternyata telah ditunjuki Allah untuk menghiburku dengan jawaban. Seorang Bapak yang tentu saja tidak kukenal memberikan tempat duduknya untukku ketika aku mulai lelah berdiri tegak…itu kasih sayang satu :)

Separuh perjalanan kereta semakin padat dan naiklah serombong keluarga kecil, ayah dan ibu yang menggendong bayi mungilnya. Bangku sebelahku kosong, dan segera sang Ibu menempatinya. Subhanallah…tiba-tiba aku merasakan ada jari mungil yang menggenggam jemari kananku. Ternyata bayi itu yang meraihnya lalu memegangnya erat-erat. Senyumku berlari lebih cepat, dan mengalahkan butiran hangat yang juga sedang bersiap meluncur. Balas kugenggam jari-jari mungilnya dan sang Ibu pun menoleh lembut ke arahku,”Tante…,”ucapnya sambil tersenyum. Aku juga membalas tersenyum, sementara genggaman bayi itu semakin kuat..dan hangat mengalirkan kesejukan padaku…itu kasih sayang dua :)

Dan di malam harinya, ketika mulai tertarik mengamati Indonesia Mencari Bakat dan mengabaikan ajakan lelap…dering sms terdengar, mengantarkan sebuah harapan baru. Alhamdulillah, Cuma itu yang sanggup kuucapkan usai membacanya…itu kasih sayang tiga :)

Lalu apa lagi yang menabiriku dari rasa syukur ketika dalam satu hari tiga kasih sayang-Nya menghampiriku, betapa Ia mencintaiku…dan berharap sandarku hanya kepada-Nya, cukup itu saja yang aku tahu :)

**ketika kasih sebenarnya tak hanya tiga, tapi tak hingga, masih ragukah kita untuk bersyukur?! Terlalu ah ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar