Selasa, 13 Juli 2010

Cara Allah Membuat Irisan Kerucut :)

“Menulis adalah obat”, kata seorang penderita MS—Multiple Sclerosis—sebuah penyakit langka yang kasusnya di Indo tak sampai lima puluhan. Ya aku setuju, menulis adalah obat. Dan narasi ‘hidup’ yang baru saja kubuat mungkin bisa dibilang obat daftar G, obat yang peredarannya terbatas dan keras, hingga usai ‘meminumnya’ jadi agak ‘kliyengan’… jadi sebagai selingan, coba sharing lewat intermezzo ini dulu lah…

__Cara Allah Membuat Irisan Kerucut__

He3, apa itu irisan kerucut? Yang SMAnya jurusan IPA gak asing kali ni. Irisan kerucut adalah salah satu materi dalam matematika yang sukses bikin aku jongkok, nDeprok, angkat tangan, angkat kaki, plus angkat jempol buat gurunya,he3. Irisan kerucut, seperti namanya adalah tindakan mengiris sebuah kerucut imajiner kemudian memutarnya sekian derajat menjadi bentuk bangun baru yang sejujurnya indah. Sayangnya sesuai tes psikologiku, kemampuan pandang ruangku termasuk rendah sehingga aku sering kesulitan membayangkan bentuk bangun baru yang terjadi. Lah bentuknya aja gak mudheng gimana aku bisa ngitung volumenya T_T

Ajaibnya Subhanallahnya, aku malah nemuin permisalan kejadian itu dalam kehidupan sehari-hari. Moga nyambung yak ^_^V :

Kerucut, dalam keseharian mudahnya akan dilihat lewat bentuk bibir. Apa lagi kalau bukan bentuk bibir kita ketika sedang kesal atau marah; mengerucut. Pengalaman terbaru adalah sore kemarin, ketika lembur dan pulang menembus ramainya jalan jogja-solo dalam guyuran hujan lebat. Meski tidak sampai mengerucut tapi rasanya mulai kecut juga, teringat kerjaan yang masih menumpuk, lelah, perut lapar, dan suatu pikiran yang akhir2 ini sedang menguras energi. Pelan2 kerucutnya makin gedhe, makin nyata, dan mulai mengirim sinyal2 gak bener ke mata—he3—dan tahukah anda apa yang terjadi sodara2…. Craaattt,gak sengaja karena gak merhatiin motorku melindas kubangan air. Belum lagi sempat mikir tiba2…Byuur..ki*ang kapsul di sebelahku ikut ngirimin se’ciprat’ air. Haiya, bukannya jadi kesal aku malah jadi cekikikan. Emang Maha Baik ya Allah tu, kepala panas makanya disiram air. Lunas sudah satu kerucut sore itu teriris, menjadi bangun baru yang bernama senyum :)

Kerucut lain pernah singgah beberapa minggu sebelumnya. Tapi sedapat mungkin disimpan rapi karena kondisinya masih di kantor. Ketak ketik, dieeemm…diajak ngobrol jawab dikit trus diemmm…dan semakin lengkap ketika ‘mak pet’ listrik padam. He3, tahu aja ya Allah…kerja gak konsen ya disuruh istirahat aja sekalian. Kalo gak berkhalwat ma kibor kan mesti jadi putar haluan kursi trus ngobrol, makin kecil deh kerucutnya. Dan akhirnya tamat juga kerucut hari itu diiris ketika staff Adm masuk bawa kue tart,”Puteranya pak Frans ulang tahun, ayo2 makan kue!”. Haiyyaa..hancurkan kerucut, ganti jadi silinder biar kuenya masuk banyak2. Serbuu :D

Kerucut juga sering menghampiri ketika di rumah. Dan untuk itu cara Allah mengiris dan mengubahnya jadi bangun baru malah lebih simpel. Mungkin ketika hati kurang nyaman, indera lain jadi lebih peka ma kelembutan ya. Jadi denting kelinting anginpun bisa terdengar lebih nyaring dari biasanya, atau kucingku bisa jadi begitu manja padaku—kebalik??!—yang pada akhirnya bikin senyum lagi. Atau dalam perjalanan sendirian yang mengundang pikiran2 aneh dan menumbuhkan kerucut, pada akhirnya teriris bahkan hanya dengan bentuk2 awan yang indah. Yah kan rugi juga rasanya ada pemandangan indah tapi gak mau menikmati… lebih ‘unik’ lagi ketika kerucutku diiris sama Allah dengan kerucut orang lain yang lebih runcing. Hmm..tak pandang ketika kita sendiripun sedang susah dan lelah, kadang masih ada saja orang lain yang hadir membawa kerucutnya pada kita, tapi kerucutnya itu malahan jadi jalan irisan kerucut kita. Mengapa? Karena dari saling berbagi itulah kita akan merasa selalu masih ada yang dapat disyukuri ^_^

Selalu ada cara Allah untuk mengiris kerucutku, itu yang pada akhirnya kupercaya. Jadi ketika jalan hidupku ternyata menumbuhkan kerucut, tak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan. Apapun keyakinan yang dihadirkan Allah di hatiku, just follow it..as long as inside syariat’s way.. kerucut pasti ada, tapi akan ada-ada juga cara Allah mengirisnya, hingga kita akan menyadari tidak ada gunanya mengeluh.. insyaAllah. Mari sama2 belajar :)

Ps: maka dari itu Pak, Bu, Mas, Mbak, Dek…sebaiknya jangan sungkan lagi. Jika anda telah sukses meyakinkan saya untuk berkata “Iya”, maka insyaAllah tidak akan ada kerucut kemarahan, apalagi kerucut penyesalan…

4 komentar:

  1. Wah... kirain bangun kerucut beneran..ternyata...
    pemikiran yang dalam nih... banyak "kerucut" yang akan semakin meruncing kalau kita nggak tepat menyikapinya ya...

    salam hangat selalu, Anis...

    BalasHapus
  2. hehehe..
    saking berkesannya pelajaran ini mbak, malahan jadi pelajaran hidup juga;
    semoga kita jadi orang yang pintar mengurai kerucut ya mbak :)

    btw, mungkin suami mbak nana juga kenal dengan guru mata pelajaran tersebut, bapak sidi ^_^

    salam hangat kembali untuk mbak nana dan keluarga ya..

    BalasHapus
  3. sebuah penjabaran arti kehidupan yang penuh makna

    *jangan2 mbak siti ini seorang sufi ya* *(thinking)

    BalasHapus
  4. terima kasih,
    hidup memang ajang pembelajaran yang tidak akan pernah usai kita jabarkan selalu kan mas :)

    waduh mas ciwir..saya orang biasa saja kok, bahkan biasaa banget,he3
    dan biasanya saya juga dipanggil 'anis' saja :D

    terima kasih kunjungannya mas

    BalasHapus