Selasa, 13 Juli 2010

Celana Jeans, dalam kenangan...

Rasa-rasanya kepengen juga sih… kalimat itulah yang terlintas di kepala setiap melihat teman-temanku memakai celana jeans, bertahun-tahun yang lalu, he3. Hingga suatu hari Mamasku mulai punya celana jeans juga, modelnya agak lebar…moschinno???!...dan gak ketat-ketat amat keliatannya. Makin pengenlah aku ;p

Pada satu kesempatan aku mencoba matur ibu kalau aku pengen punya celana jeans. Dan ibu menjawab, ditanyain bapak dulu nanti. Nggak berapa lama udah ada laporan masuk, gak pareng sama bapak, hiks…

_sampai jaman kuliah aku masih kepengen punya jeans,qiqiqi…_

Tahun demi tahun berganti, seminggu lalu terjadilah percakapan berikut di rumah:

Ibu: “Opo yo ra kepengen kae nduwe jins (pengucapannya jadi begitu sodara2, maaf;p), ora pengen koyo konco-koncone…”
*kalimat ini terlontar setelah aku mulai punya ‘sangu’ sendiri, maksud beliau toh ini uangku…monggo2 mau tak apain gitu
Aku: “Mbuh niku buk, sakniki kok mboten kepengen malih…tur nggih mboten pantes kulo ngangge jins…”
*jawaban ini cukup spontan lho, dan tegas kubilang, that’s true :)
Ibu: *agak speechless…tahu kan beliau bahwa aku sempat bener2 kepengen dengan barang satu itu…


Percakapan ringkas itu ternyata membuat aku merenung tidak sebentar. Sesuatu yang dulunya sempat begitu kuidamkan kini terasa tidak sebegitu pentingnya lagi. Bukan karena males keluar uangnya, bukan karena males ngurusin jenis kain seperti itu, bahkan bukan karena takut dilarang-larang bapak lagi. So what?! Aku memang nggak mau karena buatku benda itu nggak sesuai. Baik secara morfologi maupun anatomi,he3. Ada satu ciri khas dari celana jeans yang kuamati beberapa waktu, hingga akhirnya memupuskan keinginan untuk memiliki itu. Bukan tidak mau lagi, tapi aku sadar benda itu tidak tepat untukku. Dengan dasar pemikiran itu, aku malah nggak gampang goyah kan… bahkan ketika secara materi aku mampu beli, dan sepintas ibu pun mengizinkan, aku stay with ‘no thanks’ itu :)

Dalam renungan gak penting itu aku juga jadi merasakan sesuatu yang cakupannya lebih luas. Hmm..sekarang cara berpikirku mulai berbeda ya. Nggak ada lagi sekedar pengen ‘terlihat’, atau pengen sesuatu sebagaimana yang dimiliki orang lain hanya agar aku merasa setara dengan mereka. No, inilah aku, diriku sendiri, dengan segala pemikiranku, styleku, keyakinanku. Bajuku nggak keren?nggak ngikutin model?! So what then… aku menyudahi keinginan atas jeans karena diriku sendiri, alasan internalku sendiri.

__horee…sedikit tanda kedewasaankah ini ;p__

Not only about the style… segala pilihan hidup juga berusaha kupandang dari sisiku sebagai hal utama. Bukan keren-di-mata-orang-lain yang menjadi patokan, tapi bagaimana aku nyaman melakukannya. Bagaimana aku punya identitas di antara nilai-nilai hidup yang semakin kendur. Bagaimana aku bertahan ketika banyak mata memandang sebuah tindakan keren adalah tindakan sesuai tren… ah, jadi teringat serombong ABG yang merayakan kelulusan dengan coretan baju dan konvoi jalanan. Mereka bukan pelaku, mereka korban dari pencitraan terhadap kata ‘keren’. Tindakan mereka adalah tanggung jawab kita—orang yang lebih tua—bahwa keren bukan sekedar mengikuti atau membuat tren. Keren adalah ketika kita bertahan dengan identitas yang kita miliki. Identitas yang sesuai dengan apa adanya kita. Identitas yang merangkum norma.

Lalu ketika aku menemukan ‘penolakan jeans’ lewat pencarianku sendiri, bagaimana dengan adik-adik itu. Tugas siapakah penemuan identitas mereka?! Hmm…jadi terbayang kalimat sang Caesar dalam Gladiator,” Kesalahanmu sebagai anak adalah kegagalanku sebagai orang tua.” Cukup relevan sepertinya ^_^

*) mumpung masih siap2 euy, jangan jadi orang tua yang bangga ketika anaknya trendi tapi tergadai harga diri. Ogahhh..be smart parents, be wise n be careful ;p

10 komentar:

  1. Anis ...
    Selera berpakaian setiap orang memang macam-macam. Bagiku mah tidak ada bedanya orang mau pakai jins atau gamis, asal sopan.
    Anis enggan pakai jins mungkin karena ketat ya? Tapi ada juga lho jins yang longgar, model baggy. Dan kalau atasnya blus panjang sampai lutut, rasanya masih cukup sopan kok ...

    Tapi kembali ke selera, tak bisa dipaksa kan ... :)

    BalasHapus
  2. setuju bunda, tidak bisa dipaksakan :)
    soal jeansnya memang lebih ke diri sendiri bunda, anis gak pantes makenya,hi3
    yang kadang membuat risih kalo pakaiannya memaksakan itu lho bun, padahal diliat juga kurang pantas..hiks

    kalo anis prinsipnya nyaman buat anis also nyaman buat mata orang lain aja deh bun,he3

    BalasHapus
  3. anis yg skarang ku kenal adl anis yg sudah begitu dewasa, kayaknya aku harus bekajar banyak padamu. (kagum jg buat bpk/ibu Rifa'i yg mampu mendidik anak"nya jd spt itu).. lanjuutkan nis...

    BalasHapus
  4. belum banyak yang kamu lihat paling... :)
    akupun harus belajar banyak padamu,
    karena perbedaan ada agar orang saling belajar to,he3

    jazakallah ^_^

    BalasHapus
  5. halo Jeng Anis....
    maaf baru sempet mampir ya...
    aku pernah juga tuh, dalam masa-masa "nggak pakai jeans nggak apa-apa".
    apalagi kalau liat jenas model sekarang yang pendek bgt dan jadi keliatan ke mana-mana itu...hmmm...nggak pantes untukku deh...bikin nggak nyaman dan nggak pede :)
    Tapi aku sih nggak anti jeans... kebetulan aku nemu jeans yang modelnya cocok dan sesuai dengan seleraku, jadi beli deh... dan aku sekarang kembali pake jeans untuk acara jalan2 dan santai.
    kalau nemu yang cocok dan "sopan" why not?

    salam hangat ya...

    BalasHapus
  6. halo mbak nana..
    asik..asik..mbak nana mampir :)

    anis juga gak anti kok mbak, cuma ya itu kadang risih kalau ada yang memaksakan..tapi seperti yang dibilang bunda tuti, pada akhirnya akan kembali ke selera pribadi,he3
    sekarang baru hunting rok jeans malahan mbak, tapi kok ya seleraku ma dompet sering gak kompak :D

    salam hangat balik dari jogja ya mbak...

    BalasHapus
  7. anniiiiss...blog mu ku link ke tempat ku yaa?
    kok kamu ga pasang label link blog? :D

    BalasHapus
  8. ahahaha..aku baru tahu caranya bikin blogroll wiiinnn,
    kemaren2 sempat binun kok di WP bisa buat yang seperti itu :D

    oke2,
    tak link balik ya win :)

    BalasHapus
  9. Paling benci celana Jeans... Dulu kuliah pernah pake, kemudian saya tinggalkan sampai sekarang...

    BalasHapus
  10. walah aku malah baru tahu mas hen :)
    kalo dipikir2 emang gak pernah liat dirimu pakai jeans ya,he3

    yep..sekali lagi akan kembali ke selera pribadi kan :)

    BalasHapus